Kesaksian bp. Yusdeka
 

Kerohanian ataupun spiritualitas merupakan area yang sudah saya geluti cukup lama. Mungkin sejak masih kuliah di tahun ke-2 di ITB saya sudah mulai pencarian kerohanaian ini. Latihan Mujahid Da'wah (LMD), mentoring-mentoring keislaman di Mesjid Salman ITB, sampai ke beladiri tenaga dalam pada sebuah perguruan silat ternamapun mulai saya ikuti hari demi hari. Setelah saya bekerja, saya juga memasuki dunia halaqah dengan telaten. Tapi dari waktu ke waktu kok saya malah tumbuh menjadi seorang yang terlalu angkuh dengan segala keilmuan yang ada pada saya ?. Saya merasa sudah baik sekali sebagai seorang pemeluk Islam. Shalat wajib dan sunat-sunatnya hampir tak pernah absen. Puasa-puasa sunah bolehlah saya lakukan walaupun tidak terlalu telaten. Membaca al qur'an dengan qira'ah yang cukup lumayan juga saya sangat getol melakukannya, paling lama sebulan sekali saya bisa mengkhatamkannya. Rasanya semua bekal itu cukuplah untuk menjadi bekal saya untuk bisa disebut sebagai orang yang shaleh dan jadi panutan sebagai seorang kepala keluarga. Dengan bekal pengetahuan dan bacaan-bacaan yang saya lahap dengan rakus, memvonis orang lain salah adalah sangat mudah bagi saya. Seakan-akan yang benar itu hanya saya dan orang-orang yang sepikiran dengan saya.

Akan tetapi perjalanan waktu membawa saya mulai merasakan adanya kekeringan pada sisi kerohanian saya. Semua praktek ibadah di atas seperti tidak menimbulkan bekas sedikitpun dalam perilaku saya. Saya tumbuh menjadi seorang bapak yang pantang untuk dibantah. Saya adalah sosok yang merasa paling benar dan harus dipatuhi oleh istri dan anak saya. Mereka sampai takut membuat saya marah. Karena kalau sudah marah, maka akibatnya luar biasa, dahsyat. Belum lagi sifat-sifat buruk lainnya yang kalau dipikir-pikir tidak akan mungkin dilakukan oleh seorang yang rajin beribadah. Puncak kekalutan saya adalah saat saya diberi cobaan saat anak saya yang kedua diambil oleh Allah. Cobaan ini singkat kata membawa saya untuk melakukan UMRAH RAMADHAN sebulan penuh di Mekah dan Medinah. Untuk sesaat memang gejolak jiwa saya bisa seperti terkendali. Namun tetap saja ada yang belum bisa saya temukan dalam perjalan hidup saya ini. Ada saja kekeringan disisi-sisi rohani saya yang padahal selalu diisi dengan pengajian-pengajian di sebuah halaqah dua kali seminggu.

Saking inginnya saya membasahi kekeringan rohani itu, lalu saya terdampar memasuki dunia sebuah tarekat sebut saja tarekat N. Saya pernah ikut praktek "suluk" yang sangat berat dan menyengsarakan diri selama 15 hari disuatu akhir bulan ramadhan pada sebuah tempat dikaki gunung Merapi, Sumatera Barat. Dalam suluk itulah saya mulai kenal dengan dzikir di lathaif-lathif dan juga merasakan pengaruhnya yang hebat terhadap rasa di dada saya, dan fenomena-fenomena yang muncul di ketubuhan maupun pikiran saya. Kemudian praktek tarekat ini ternyata membuat saya terlalu sibuk dengan amalan-amalan dan wirid-wirid yang harus saya lakukan setiap hari. Kalau wirid-wiridnya tidak dilakukan, maka sebuah rasa bersalah akan mendera saya dengan sangat kuat. Belum lagi pengaruh fenomena-pengaruh "penampakan" yang kadangkala sangat mengganggu pikiran dan rasa saya. Semua itu menjadikan saya sibuk sendiri. Saya capek sendiri. Sampai muncul vonis saya bahwa agama itu kok sulit sekali yah..?. Padahal Allah berfirman bahwa agama itu sangat mudah, Allah tidak akan membebani hambanya dengan beban yang tidak mampu untuk dilaksanakan.

Namun sewaktu saya melaksanakan haji bersama istri saya tahun 2000 yang lalu, salah satu do'a saya di Arafah adalah: "Ya Allah, saya hanya ingin mengenalmu Ya Allah, saya ingin hanya menjadi saksi atas kebenaran aya-ayat Alqur'an yang Engkau Turunkan, Ya Allah kenalkan saya dengan orang yang bisa membawa saya untuk mengenal-Mu, Ya Allah….".
Do'a itu seakan terijabah diawal tahun 2001. Saat itu Anak buah saya (alm), memberikan saya artikel-artikel Abu Sangkan dari internet. Lalu diikuti dengan undangan ceramah Ust Abu Sangkan di Mesjid dekat rumah saya. Awalnya saya memperkirakan bahwa artikel-artikel tersebut ditulis oleh seorang yang paling tidak sudah berusia diatas 50 tahun dengan baju dan gaya seperti pemeran wali dalam film wali songo. Atau paling tidak sepert Aa' Gym sekarang lah. Namun saya benar-benar kecele. Abu Sangkan itu kok masih muda amat, dan pakaian beliau kok kasual sekali dengan jeans dan tas pinggang bertengger di pinggangnya. Sehingga pada awal pertemuan pertama itu saya agak menyepelekan beliau. Akan tetapi begitu ceramah dimulai, maka detik demi detik terasa merangkak begitu cepat. Tak terasa ceramah 2 jam seperti cuma berjalan 30 menit. Mata masih melotot, eh ceramahnya sudah beliau akhiri, membuat penasaran memang.

Sejak ceramah awal itulah sebenarnya sebuah milestone baru mulai ditancapkan dalam kehidupan saya. Ceramah demi ceramah, praktek ke praktek saya lalui bersama beliau. Setiap malam Juma'at (sampai sekarangpun), walaupun jauh dari Cilegon, saya mesti sempat datang ke rumah beliau untuk mendengarkan wejangan beliau dan sekaligus praktek bersama sepuluhan teman-teman saya yang lain. Dari kegiatan mingguan dan kegiatan-kegiatan lainnya itulah saya bisa mengumpulkan sekitar 90 kaset ceramah beliau masing-masing berdurasi C-90.

Nah pengaruhnya apa…?. Kan ini yang penting.
Minggu-minggu pertama saya begitu mudah untuk menangis, padahal waktu anak saya meninggalpun saya tidak bisa menangis. Tetapi dengan hanya memanggil-manggil nama Allah, tidak sampai satu menit membuat saya seperti ditangiskan, dihisteriskan. Tapi tangis dan histeris itu bukan karena sedih, atau karena takut siksa, atau karena ingat dosa dan kesalahan-kesalahan selama ini. Tapi sebuah tangis dan histeria yang muncul dari dalam yang tidak mampu untuk saya lawan. Proses berikutnya adalah terjungkal-jungkal, lalu dada seperti dibongkar dengan paksa dan isinya diaduk-aduk. Kemudian muncul rasa hening dan damai yang sangat tenang menyelimuti pikiran dan rasa saya. Rasa hening dan damai ini seperti mengikuti saya terus, tak lepas-lepas dalam beberapa waktu, tapi beberapa waktu kemudian menghilang lagi. Namun ketidak stabilan ini tidak bertahan lama. Latihan demi latihan yang rutin saya lakukan membuat "hal dan kondisi" hening itu bisa saya pertahankan hampir di setiap saat dan menjadi suatu yang inheren dalam keseharian saya.

Pengaruh yang terjadi hampir secara otomatis adalah, bahwa rasa pemarah, benci, iri, tidak khusyu', gelisah, dan sebagainya yang dulu sangat mudah bangkit, sekarang malah menjadi meredup dengan sendirinya. Memudar tanpa saya capek-capek lagi untuk menghilangkannya. Sebagai gantinya muncul sifat kebalikannya. Rasa damai, tidak ingin marah, tidak ingin benci dan iri, tidak mudah gelisah. Shalat satu jampun terasa tidak melelahkan. Semua berubah begitu natural dan nyaris tanpa mengeluarkan tenaga sedikitpun. Energi ditempat kerja sayapun seperti muncul seperti tak habis-habisnya. Masalah-masalah yang muncul seperti selalu ada saja jalan penyelesaiannya.

Pengalaman terakhir saya adalah yang paling menyesakkan dada, yaitu dalam sebuah latihan baru-baru ini, saya "ingin" coba-coba berhenti di rasa dan pikiran saya. Dan saya jadi terjebak disana. Saya tidak bisa keluar dari rasa dan pikiran itu. Sakit sekali, ingin rasanya saya mati saja. Dalam pengajaran inilah saya dengan tidak sengaja (mungkin) menjadi seorang saksi bagi kisah Al Hallaj, saat mana - menurut sejarah - beliau sangat ingin mengalami kematian agar bisa lepas kembali menuju Allah. Ingin kematian karena nikmat dan sengsara silih berganti yang menyesakkan dada. Ingin kematian karena ingin melepaskan semua sengsara dan nikmat itu. Padahal saya mencoba bertahan di rasa dan pikiran itu tak lebih dari satu jam. Pantas saja dada kita ini dinamakan sebagai "tungku perapian, tungku penyiksaan" bagi manusia di dunia ini. Dahsyat sekali siksa disana. Disinilah terletaknya neraka dunia sekaligus juga syurga dunia. Akan tetapi, alhamdulillah, dengan kembali berpedoman kepada PETA (alqur'an) yang selalu saya latih selama ini dengan Abu Sangkan, kembali kepada Allah, maka semua fenomena tungku penyiksaan itu bisa hilang dengan sendirinya. Benar…, ternyata hanya dengan sebab mengingat Allahlah hati kita menjadi tenteram. Bukan dengan sibuk mengurus "hati" terus, mengurus pikiran, dan mengurus wacana-wacana yang kadangkala berasal dari peradaban masa lalu.

Akhirnya hanya satu kata, Subhanallah………

Deka

 
Copyright © Yayasan Bukit Thursina 2002