Kesaksian bp. Cahya Saputra
 

Assalamu'alaikum wr wb,

Syukur alhamdulillah Saya panjatkan kepada Tuhan yang tiada Tuhan selain Allah, yang karena anugerah-Nya saya diperkenankan mengenal patrap/dzikir. Patrap/dzikir dalam bentuk yang nyata, bukan cuma sekedar hasil olah pikiran.

Saya adalah orang rasional, yang dengan kemampuan rasio berusaha mengenal Tuhan Saya. Saya bukan keluaran suatu lembaga keislaman, baik itu madrasah mau pun pesantren. Saya hanyalah keluaran sekolah umum yang minim akan pengetahuan agama. Bahkan saya pun berasal dari keluarga aliran penghayat kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Saya ini juga termasuk golongan orang-orang yang sulit belajar kepada orang lain, sehingga saya lebih banyak belajar sendiri, melalui bacaan, atau mendengarkan ceramah di media massa. Hanya karena ketelatenan para sahabat lah, maka saya bisa mengenal patrap ini. Semoga mereka senantiasa mendapat rahmat-Nya.

Pertama kali saya mengenal ustadz Abu Sangkan di Depok, sewaktu para sahabat mengajak melihat usaha perikanan air tawar milik ustadz Abu Sangkan. Lalu dilanjutkan di rumah beliau di daerah Bekasi, namun masih dalam rangka silaturahmi saja. Baru ketika saya pindah ke Tuban, saya pun mengundang ustadz Abu Sangkan untuk memberikan ceramah tentang Islam. Secara logika, saya memahami dan membenarkan apa yang disampaikan oleh ustadz Abu Sangkan, namun ketika ikut patrap, saya ndak bisa masuk. Bahkan ketika bapak Haji Slamet Oetomo, Mas Pi'i dan bapak Syukur ke Tuban, dan saya patrapan bersama, saya tetap belum bisa. Padahal pak Haji sudah berupaya membantu dengan menepuk dada dan punggung saya.

Saya tidak pernah punya keinginan untuk berhenti patrap, karena patrap adalah dzikir yang sebenarnya, saya faham walaupun saya tidak bisa, namun saya tetap menggali patrap dengan banyak mendengarkan nasehat ustadz Abu Sangkan.

Sampai suatu ketika, saya, pak Budiono dan ustadz Abu Sangkan pergi ke Banyuwangi dengan maksud untuk digembleng langsung oleh pak Haji. Pada waktu itu, patrap dilakukan di pantai Banyuwangi, dimana saya masih tertambat pada pikiran-pikiran saya. Sedangkan teman saya bisa patrap dengan sukses bahkan ketika patrap, tubuhnya nempel ke pak Haji. Sepulang dari Banyuwangi, Saya pun berusaha untuk menghidupkan patrap secara rutin di Tuban, yakni setiap malam Jum'at, hingga saat ini. Pernah dalam patrap, pak Budiono sampai tiga kali mencabut sesuatu dari dada saya, sesuatu yang menurut beliau seperti pokok pohon besar yang masih berakar. Meskipun demikian, setiap patrap, saya selalu mual dan pusing dan ini bisa berlangsung berhari-hari, karena saya tidak suka muntah-muntah. Kondisi seperti ini, tetap belum menggoyahkan saya untuk berhenti patrap. Bahkan ketika saya dinas ke Jakarta, saya pun digembleng ustadz Abu Sangkan di Cijantung, yang lantainya beton, sampai kaki saya lecet-lecet, mual dan pusing-pusing. Hingga saya bertanya dalam hati, kapan saya bisa patrap? Kapan saya berhenti mual dan pusing-pusing ketika patrap?

Suatu ketika ada kegiatan sanlat di Puncak, dan baru kali itu saya tergerak untuk ikut. Ternyata saya bisa mengikuti patrap dengan enak, bahkan pada malam terakhir seperti ada kekuatan yang memaksa saya untuk menikah dengan seseorang, yang sebelum patrap Saya antarkan untuk membeli makanan yang dia inginkan. Saya tolak kekuatan itu bukan karena saya tidak suka, tapi karena saya merasa bukan orang yang cocok untuk dia, namun saya tidak mampu, akhirnya saya menyerah kepada Allah, kalau itu kehendak-Nya, aku menerima. Ternyata tiga bulan kemudian Saya menikah.

Saya pun tetap menekuni patrap, namun kesadaran saya tetap masih menguasai saya, sehingga kalau patrap masih terombang-ambing, kadang bisa, kadang tidak. Kalau patrap dengan ustadz Abu Sangkan atau pak Haji memang enak, gampang melakukannya, namun patrap mestinya bisa dijalani sendiri dimana pun kita berada. Ini yang selalu mengganggu pikiran saya, oleh karena itu semua nasehat ustadz, pak Haji saya terus renungkan, saya terus berusaha memahami sambil tetap melakukan patrap di setiap tempat dan keadaan.

Dari seluruh nasehat dan melalui proses perenungan tersebut, akhirnya terkumpul pemahaman bahwa aku bukanlah tubuh ini, karena tubuh ini tak bergeming ketika aku diumpat orang. Aku juga bukan hati ini, karena perasaan tertinggal ketika aku tidur. Aku juga yang sadar, karena ada orang yang hilang kesadarannya. Bahkan ketika aku masih bayi aku tidak memiliki kesadaran. Jadi tubuhku adalah alatku, hatiku adalah alatku, kesadaranku adalah alatku, maka aku tak mau mengaku-aku bahwa mereka adalah aku. Aku tolak itu, karena aku ingin mengenal aku yang sebenarnya, aku yang sejati. Dengan aku yang sejati inilah aku kembali, aku serahkan semuanya kepada Tuhan, kepada Allah. Ketika aku serahkan semuanya hingga pada suatu keadaan, aku tak bisa bergerak, aku terbaring, mataku terbuka namun yang ada adalah yang hidup, yang berkehendak, yang satu, yang ketika semuanya belum ada.

Saya bisa saja mengaku telah bertemu Tuhan, namun saat ini saya merasa belum saatnya, saya yakin bahwa Tuhan akan memperkenalkan dirinya setahap demi setahap, melalui nama-Nya lewat orang lain, melalui sifat-sifat-Nya yang bisa kita rasakan, yang bisa kita nikmati, yang bisa kita sadari. Saya yakin kalau saya tekun dan bersungguh-sungguh, maka Tuhan akan memperkenalkan Diri kepadaku, seperti dalam kisah Musa as, seperti Ibrahim as, atau bahkan seperti Nabi Muhammad saw. Saya tidak tahu kapan waktu itu akan tiba, namun saya tetap patrap sampai saya harus pulang dengan senyuman bahagia.

Semoga pak Haji, ustadz Abu Sangkan dan para sahabat saya yang telah mendorong saya mengenal patrap dan para sahabat saya orang-orang patrap juga saya dan keluarga kita semua senantiasa memperoleh rahmat Allah, sehingga bisa kembali dengan ridha dan diridhai-Nya. Salam dan shalawat saya sampaikan untuk Rasulullah saw. Alhamdulillahirabbil'alamin.

Wassalam,

Cahya Saputro

 
Copyright © Yayasan Bukit Thursina 2002