|
|
Ada
banyak sekali pertanyaan pada diri kita. Sebagian dari pertanyaan
ini mungkin kelihatan mudah dan jelas sekali bagi kelompok
orang dan dapat dijawab dengan mudah. Untuk pertanyaan-pertanyaan
yang berhubungan dengan hukum (fiqh) serta ilmu pengetahuan
, jawaban atas pertanyaan tersebut dapat dilengkapi dengan
bukti-bukti yang kuat, yang membuat kita menjadi jelas dan
tidak ragu-ragu lagi atas kebenaran yang diberikan. Namun
masih banyak sekali pertanyaan yang belum terjawab dengan
baik. Pertanyaan-pertanyaan tersebut sebenarnya amat mendasar,
tetapi tidak pernah mendapat jawaban yang konkret, antara
lain adalah :
Apakah
ada shalat khusyu' itu ?
Mugkinkah orang awam bisa melakukannya ?
Bagaimana Allah menjawab setiap doa ?
Mengapa perbuatan jahat lebih mudah dilakukan sedangkan
perbuatan baik memerlukan upaya yang besar untuk melaksanakannya
?
Barangkali kita sudah mendengar dan memperoleh jawaban untuk
hal-hal tersebut. Tetapi karena jawaban tersebut tidak diberikan
bersamaan rasanya (Dzauq), maka penjelasan itu hanyalah sebuah
impian yang tidak pernah kunjung dirasakan dan akhirnya menganggap
khusyu' itu hanyalah milik para wali dan para Nabi yang terdahulu,
lalu kita menempatkan diri menjadi orang awam selamanya.
Mungkin sebagian dari kita sulit untuk mempercayai bahwa jawaban
atas pertanyaan itu bisa terjadi dan dirasakan oleh kita secara
langsung, yaitu merasakan kehadiran Allah dalam setiap gerak
kita, sebagaimana Sabda Rasulullah : An ta'budallaha ka
annaka tarahu fainlam takun tarahu fainnahu yaraka (Engkau
menyembah Allah seakan-akan melihat-Nya, apabila tidak mampu
melihat-Nya sadari bahwa Dia selalu melihat engkau).
|
| |
| KATA
PENGANTAR DARI KH ABDURRAHMAN WAHID |
| .....Orang
itu berusia setengah baya, dan bercerita kepada saya, tiap kali
ia mendengar nama Tuhan yang disebut baik dari bahasa Arab maupun
bahasa Sansekerta apalagi dalam bahasa nasional Indonesia, air
matanya menitik. Ia menjadi malu pada orang lain karena bukankah
ini kelemahan bahwa ia tidak bisa menyembunyikan hubungannya
dengan-Nya? Ini membuat ia menjadi penangis, dan dalam pergaulan
ia merasa terasing karena ketidakmampuan tersebut. Apakah yang
harus diperbuatnya, untuk tidak menangis begitu nama Tuhan disebutkan?
Bukankah dengan demikian, ia menjadi terhalang dalam hubungannya
dengan sesama manusia karena menjadi begitu dekat dalam hubungannya
dengan Tuhan? Karena itulah ia jauh-jauh datang dari Sulawesi
Tengah ke Jakarta, untuk bertemu dengan saya.
Terus terang, saya mengalami rasa campur aduk mendengar pembicaraannya
itu. Di satu sisi, saya memahami orang itu sebagai mahluk
yang sangat dekat dengan Tuhannya dan untuk itu ia harus diperlakukan
secara terhormat. Bukankah ia justru memiliki sesuatu yang
tidak dimiliki orang lain? Kedekatan dengan Tuhan itu membuat
saya iri hati. Jarang ada orang, yang memiliki hubungan begitu
dekat dengan pencipta-Nya. Namun, saya juga merasakan kasihan
kepada orang itu. Bukankah justru kedekatannya dengan Tuhan
membuat ia berada dalam kedudukan serba salah dalam hubungannya
dengan manusia lain? Jadi, kedekatan hubungan dengan Tuhan
dapat juga mengganggu hubungan dengan sesama manusia. Di sinilah
terletak kelebihan Abu Sangkan: ia mampu mengungkapkan hubungannya
dengan Allah dalam sebuah buku tanpa mengganggu kedekatan
itu sama sekali. Mungkin inilah yang dimaksudkan oleh nabi
Muhammad Saw melalui ungkapan beliau: barang siapa mengenal
dirinya, mengenal Tuhannya (man 'arrafa nafsah arafa
robbah).....
KH
Abdurrahman Wahid
mantan Presiden RI ke 4
|
| |
| KATA
PENGANTAR DARI DR. IR. MUHAMMAD IMADUDDIN ABDULRAHIM Ph.d |
| ..........Tidaklah
cukup bagi kita apabila hanya membaca ayat-ayat dalam Al Qur'an,
untuk meyakini kebesaran dan kekuasaan Allah. Mengapa kita diperintahkan
untuk mengamati alam semesta di sekeliling kita? Karena memang
ciptaan Allah yang dinamakan alam semesta ini berisikan tanda
bukti dan pameran dari kebesaran dan kekuasaan-Nya, dan merupakan
firman yang berbentuk alam semesta. Dengan demikian tidaklah
mungkin buat kita untuk memahami Al Qur'an dengan pengertian
sempit, karena Allah sendiri memerintahkan membaca Al Qur'an
yang lebih nyata, yaitu alam semesta dan apa yang ada pada diri
kita sendiri (fitrah)...........Gambaran inilah yang dimaksudkan
oleh Abu Sangkan dalam bukunya Berguru Kepada Allah.
Dr.
Ir. Muhammad Imaduddin Abdulrahim Phd.
|
| |
|
.....Gagasan
yang disusun dalam bahasa yang 'berjiwa' dan 'menjiwai' berangkat dari pengalaman
bathiniyah penulisnya, Abu Sangkan. Dalam karyanya nampak adanya pergulatan
antara rasionalitas, emosionalitas saling berpilin menyusun format-format
argumentasi subyektif-obyektif penulis. Sehingga buku ini menjadi semakin
bermakna apabila kita membacanya sambil berlatih untuk ber-transendensi
diri.
Buku ini tidak paradigmatic-dogmatis, dan menyampaikan suatu metode-praktis
bagaimana seorang manusia mampu berkomunikasi dengan kehadiran utuh jiwa-raganya
di hadapan Allah Subhanahu wa ta'ala.
Buku ini
semakin memperkaya khasanah psikologi islami, khususnya dalam bidang metode
psikologi berbasis ajaran Islam. Dengan menggunakan pendekatan dari lintas
mahzab, bahkan paramahzab, buku ini dapat menyambung missing link antara
syariah dan shufiyah atau antar sekte yang saling berbeda tetapi dalam
satu kesamaan tauhid.. Kaannahum bunyanun marshush.....
Drs.
Yadi Purwanto MM. MBA.
Dekan Fakultas Psikologi Universitas
Muhammadiyah Surakarta
|