TELAH TERBIT !!! TELAH TERBIT !!! TELAH TERBIT !!!
 
Sinopsis Buku "Berguru Kepada Allah"
 

Ada banyak sekali pertanyaan pada diri kita. Sebagian dari pertanyaan ini mungkin kelihatan mudah dan jelas sekali bagi kelompok orang dan dapat dijawab dengan mudah. Untuk pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan hukum (fiqh) serta ilmu pengetahuan , jawaban atas pertanyaan tersebut dapat dilengkapi dengan bukti-bukti yang kuat, yang membuat kita menjadi jelas dan tidak ragu-ragu lagi atas kebenaran yang diberikan. Namun masih banyak sekali pertanyaan yang belum terjawab dengan baik. Pertanyaan-pertanyaan tersebut sebenarnya amat mendasar, tetapi tidak pernah mendapat jawaban yang konkret, antara lain adalah :

Apakah ada shalat khusyu' itu ?
Mugkinkah orang awam bisa melakukannya ?
Bagaimana Allah menjawab setiap doa ?
Mengapa perbuatan jahat lebih mudah dilakukan sedangkan perbuatan baik memerlukan upaya yang besar untuk melaksanakannya ?

Barangkali kita sudah mendengar dan memperoleh jawaban untuk hal-hal tersebut. Tetapi karena jawaban tersebut tidak diberikan bersamaan rasanya (Dzauq), maka penjelasan itu hanyalah sebuah impian yang tidak pernah kunjung dirasakan dan akhirnya menganggap khusyu' itu hanyalah milik para wali dan para Nabi yang terdahulu, lalu kita menempatkan diri menjadi orang awam selamanya.

Mungkin sebagian dari kita sulit untuk mempercayai bahwa jawaban atas pertanyaan itu bisa terjadi dan dirasakan oleh kita secara langsung, yaitu merasakan kehadiran Allah dalam setiap gerak kita, sebagaimana Sabda Rasulullah : An ta'budallaha ka annaka tarahu fainlam takun tarahu fainnahu yaraka (Engkau menyembah Allah seakan-akan melihat-Nya, apabila tidak mampu melihat-Nya sadari bahwa Dia selalu melihat engkau).

 
KATA PENGANTAR DARI KH ABDURRAHMAN WAHID
.....Orang itu berusia setengah baya, dan bercerita kepada saya, tiap kali ia mendengar nama Tuhan yang disebut baik dari bahasa Arab maupun bahasa Sansekerta apalagi dalam bahasa nasional Indonesia, air matanya menitik. Ia menjadi malu pada orang lain karena bukankah ini kelemahan bahwa ia tidak bisa menyembunyikan hubungannya dengan-Nya? Ini membuat ia menjadi penangis, dan dalam pergaulan ia merasa terasing karena ketidakmampuan tersebut. Apakah yang harus diperbuatnya, untuk tidak menangis begitu nama Tuhan disebutkan? Bukankah dengan demikian, ia menjadi terhalang dalam hubungannya dengan sesama manusia karena menjadi begitu dekat dalam hubungannya dengan Tuhan? Karena itulah ia jauh-jauh datang dari Sulawesi Tengah ke Jakarta, untuk bertemu dengan saya.

Terus terang, saya mengalami rasa campur aduk mendengar pembicaraannya itu. Di satu sisi, saya memahami orang itu sebagai mahluk yang sangat dekat dengan Tuhannya dan untuk itu ia harus diperlakukan secara terhormat. Bukankah ia justru memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain? Kedekatan dengan Tuhan itu membuat saya iri hati. Jarang ada orang, yang memiliki hubungan begitu dekat dengan pencipta-Nya. Namun, saya juga merasakan kasihan kepada orang itu. Bukankah justru kedekatannya dengan Tuhan membuat ia berada dalam kedudukan serba salah dalam hubungannya dengan manusia lain? Jadi, kedekatan hubungan dengan Tuhan dapat juga mengganggu hubungan dengan sesama manusia. Di sinilah terletak kelebihan Abu Sangkan: ia mampu mengungkapkan hubungannya dengan Allah dalam sebuah buku tanpa mengganggu kedekatan itu sama sekali. Mungkin inilah yang dimaksudkan oleh nabi Muhammad Saw melalui ungkapan beliau: “barang siapa mengenal dirinya, mengenal Tuhannya” (man 'arrafa nafsah arafa robbah).....

KH Abdurrahman Wahid
mantan Presiden RI ke 4

 
KATA PENGANTAR DARI DR. IR. MUHAMMAD IMADUDDIN ABDULRAHIM Ph.d
..........Tidaklah cukup bagi kita apabila hanya membaca ayat-ayat dalam Al Qur'an, untuk meyakini kebesaran dan kekuasaan Allah. Mengapa kita diperintahkan untuk mengamati alam semesta di sekeliling kita? Karena memang ciptaan Allah yang dinamakan alam semesta ini berisikan tanda bukti dan pameran dari kebesaran dan kekuasaan-Nya, dan merupakan firman yang berbentuk alam semesta. Dengan demikian tidaklah mungkin buat kita untuk memahami Al Qur'an dengan pengertian sempit, karena Allah sendiri memerintahkan membaca Al Qur'an yang lebih nyata, yaitu alam semesta dan apa yang ada pada diri kita sendiri (fitrah)...........Gambaran inilah yang dimaksudkan oleh Abu Sangkan dalam bukunya “Berguru Kepada Allah”.

Dr. Ir. Muhammad Imaduddin Abdulrahim Phd.

 
KATA PENGANTAR DARI Drs. YADI PURWANTO MM. MBA
.....Gagasan yang disusun dalam bahasa yang 'berjiwa' dan 'menjiwai' berangkat dari pengalaman bathiniyah penulisnya, Abu Sangkan. Dalam karyanya nampak adanya pergulatan antara rasionalitas, emosionalitas saling berpilin menyusun format-format argumentasi subyektif-obyektif penulis. Sehingga buku ini menjadi semakin bermakna apabila kita membacanya sambil berlatih untuk ber-transendensi diri.

Buku ini tidak paradigmatic-dogmatis, dan menyampaikan suatu metode-praktis bagaimana seorang manusia mampu berkomunikasi dengan kehadiran utuh jiwa-raganya di hadapan Allah Subhanahu wa ta'ala.

Buku ini semakin memperkaya khasanah psikologi islami, khususnya dalam bidang metode psikologi berbasis ajaran Islam. Dengan menggunakan pendekatan dari lintas mahzab, bahkan paramahzab, buku ini dapat menyambung missing link antara syariah dan shufiyah atau antar sekte yang saling berbeda tetapi dalam satu kesamaan tauhid.. Kaannahum bunyanun marshush.....

Drs. Yadi Purwanto MM. MBA.
Dekan Fakultas Psikologi Univer
sitas Muhammadiyah Surakarta

 
Copyright © Yayasan Bukit Thursina 2002