![]() |
![]() |
||||
|
Keadaan ini telah berlangsung ratusan tahun tanpa ada tanda-tanda penyelesaian dan perubahan kepada yang lebih baik. Mereka saling membanggakan dan membenarkan kelompoknya yang paling benar. Bagaikan benang kusut kita melihat persoalan ummat Islam dari masa kemasa, sehingga sulit kita menentukan mana yang benar dan mana yang salah atau mungkin semuanya salah dan semuanya benar. Mari kita mencoba memahami sejarah perjalanan Islam dengan jujur dan jernih tanpa harus memihak siapa-siapa. Sejarah merupakan Prasasti dan saksi yang tidak bisa kita rubah oleh sebab kita tidak setuju, akan tetapi sejarah berkata apa adanya seperti kita memotret objek pemandangan yang indah maupun yang tandus. Mudah-mudahan setelah melihat perjalanan sejarah Islam ,kita akan menjadi lebih bijaksana didalam mengambil kesimpulan setiap masalah. Terutama memandang setiap aliran yang berkembang dewasa ini. Bid'ah
Di Indonesia kaum Nahdhatul Ulama (NU ) golongan yang paling banyak mendapatkan serangan senjata Bid'ah dari kalangan kaum yang mengaku Salafi (Baca: Persis, Muhammadiyah, LDII, mungkin Syiah). Demikian juga kaum Wahabi (Aliran resmi Kerajaan Saudi Arabiyah) paling rajin membantai kaum penziarah Qubur dengan senjata bid'ah, syirik dan khurafat , bahkan telah mengeluarkan fatwa golongan Syiah dihukum " Kafir". Rasionalis (mu'tazilah) kafir, Tasawuf sesat dst. Sejarah telah mencatat peristiwa keangkuhan manusia dari abad keabad. Agama telah kehilangan pamornya untuk mengendalikan nafsu manusia. Malah justru agama dijadikan tunggangan nafsunya untuk memperoleh kekuasaan dan martabat golongannya. Agak aneh memang kalau dikatakan bahwa dalam Islam sebagai agama, persoalan yang pertama-tama muncul adalah dalam bidang politik dan bukan dalam bidang teologi. Tetapi persoalan politik ini segera meningkat menjadi persoalan teologi. Semenjak Rasulullah meninggal, masyarakat Madinah sibuk memikirkan pengganti beliau untuk memimpin negara yang baru lahir, sehingga penguburan Nabi menjadi persoalan kedua bagi mereka. Timbullah khilafah , sebagai kesepakatan yang akan memimpin masyarakat Madinah. Abu Bakar terpilih secara aklamasi sebagai khalifah pertama, kemudian Umar bin Khattab sebagai penggantinya. Namun persolan politik mulai terasa pada kekhalifahan Usman bin Affan, yang dituduh curang didalam memimpin negara. Beliau dinilai lemah oleh masyarakat karena telah banyak dipengaruhi ambisi keluarganya. Ia mengangkat mereka (Keluarganya ) menjadi Gubernur dengan cara yang tidak terpuji. Tindakan-tindakan politik yang dijalankan Usman ini menimbulkan reaksi yang tidak menguntungkan bagi dirinya. Sahabat-sahabat nabi yang pada mulanya mendukung Usman , ketika melihat tindakan yang kurang tepat itu, mulai meninggalkan khalifah ketiga ini. Perasaan tidak senang dan marah mulai muncul didaerah-daerah. Sehingga dari mesir mengirimkan pasukan untuk memberontak dan akhirnya Usman terbunuh. Setelah terbunuhnya Usman suhu politik semakin memanas saat suksesi penentuan khalifah ketiga. Ali sebagai calon kuat ditentang oleh Talhah dan Zubeir dari Mekkah yang ingin pula menjadi khalifah,yang mendapat dukungan dari Siti Aisyah. Tantangan dari Aisyah ini meningkat menjadi pertempuran besar di Iraq tahun 656 M. Talhah dan Zubeir mati terbunuh, sedang Aisyah di antar pulang ke Mekkah. Tantangan kedua muncul dari Muawiyyah Gubernur Damaskus dan keluarga Usman. Mereka menolak Ali sebagai khalifah. Ia menuntut Ali untuk menghukum pembunuh Usman, bahkan ia menuduh Ali turut campur dalam pembunuhan itu. Karena salah seorang pembunuh Usman itu diketahui ternyata adalah Muhammad ibn Abi Bakr, anak angkat Ali bin Abi Thalib. Namun Ali tidak menindak tegas anak angkatnya itu, akan tetapi justru mengangkatnya menjadi Gubernur Mesir. Kemarahan kalangan Muawwiyah dan keluarga Usman tidak bisa dibendung sehingga terjadilah pertempuran sengit. Dalam pertempuran yang terjadi antara kedua golongan ini di Shiffin, tentara Ali dapat menumpas mundur. Tetapi tangan kanan (kepercayaan) Muawiyah bernama Amr ibn `As dengan cara yang sangat licik menyatakan menyerah dengan mengangkat Al qur'an diatas kepalanya, sehingga pertempuran dihentikan oleh Ali. Qurra' yang dipihak Ali mendesak Ali untuk menerima tawaran untuk berdamai. Sehinga terbentuklah kesepakatan damai antara kedua belah pihak , sebagai pengantara diangkat dua orang : `Amr ibn al `As dari pihak Muawwiyah dan Abu Musa Al asy `ari dari pihak Ali. Dalam pertemuan mereka , kelicikan Amr ibn al `As mengalahkan perasaan Abu Musa. Sejarah mengatakan antara keduannya bersepakat untuk menjatuhkan kedua pemuka yang bertentangan , Ali dan Muawwiyah. Namun kenyataannya dalam pengumuman yang dibacakan oleh Abu Musa sebagai orang yang tertua, hanya Ali yang disepakati untuk dijatuhkan. Bagaimanapun peristiwa ini merugikan bagi pihak Ali dan menguntungkan Muawwiyah. Padahal Ali sebagai Khalifah yang legal sedangkan Muawwiyah hanyalah sebagai Gubernur. Dengan adanya arbitrase ini kedudukan Muawwiyah naik menjadi khalifah yang tidak resmi. Sedangkan Ali tetap mempertahankan kedudukannya sebagai khalifah sehingga Ia harus mati terbunuh tahun 661 M oleh Abdul Rahman Ibn Muljam, dari pihak Ali yang kecewa atas keputusan yang dianggap salah . Dengan demikian kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Muawwiyah menggantikan kedudukan Ali sebagai khalifah. Persoalan-persoalan yang terjadi dilapangan politik sebagaimana digambarkan diatas inilah yang akhirnya membawa kepada timbulnya persoalan-persoalan teologi. Timbullah siapa yang kafir dan siapa yang bukan kafir. Siapa yang salah dan siapa yang benar.Siapa yang melakukan bid'ah dan khurafat Kekacauan terjadi sepeninggal Ali, mereka mengkhianati dan gelap mata tidak lagi menghargai Rasulullah dengan membunuh cucunya yang paling dicintainya Hasan dan Husein ,di padang Karbala. Maka wajarlah kalau pendukung Ali (baca: kaum Syiah) sangat membenci kelompok Muawwiyah,Usman dan Khawarij. Kecintaan mereka terhadap cucu Rasulullah dan Ahlul Bait mengubah system politik dari bentuk kekhalifahan yang diprakarsai oleh Abu Bakar, menjadi sistem Imamah (Lihat: Pemerintahan Islam di Iran ). Kekacauan politik semakin meruncing tajam sehingga muncul disana sini kolompok-kelompok yang mengatas namakan kebenaran untuk kepentingan politiknya. Bahkan pada masa itu dikenal pengarang-pengarang hadist palsu untuk dijadikan dalil menyesatkan lawannya. Karakter itu masih terasa pada masa sekarang yang berkembang saling menyesatkan antara golongan dan aliran. Al qur'an telah memperingatkan dalam surat Ar rum: 32 , Kullu hizbin bima ladaihim faarihun ..setiap golongannya mengaku paling benar dan mereka membanggakan setiap golongannya. Kalau kita tidak sadar akan ayat ini, maka semakin jauhlah kita dari keuniversalan Islam. Karena telah terkotak menjadi sekte sehingga menjadi ajaran yang sempit. Islam terkurung oleh pikiran pimpinannya dan kelompok.Kita sudah terlanjur dalam bagian kotak-kotak itu, entah termasuk bagian golongan apa sesatkah atau benarkah. Kalau terlanjur menjadi Sunni maka sesatlah menurut Syi'ah, kalau terlanjur menjadi Rasionalis (Qadariyah ) sesatlah menurut Jabbariyyah ( kaum fatalis /pasrah) ini terjadi pada masa Al ghazali yang menyerang kaum rasionlis dalam bukunya Tahafut al falasifah (tersesatnya kaum rasionalis/ para filosof) kemudian dibalas oleh Ibnu Rusydi mengungkap kejumudan dan kerancuan kaum tasawuf dalam kitab Tahafut at tahafut (kerancuan dari kerancuan), kalau kita terlanjur berada di kalangan tasawuf maka sesatlah menurut Wahabiyah . Demikian pula didalam kalangan tasawuf sendiri, pecah menjadi sekte-sekte akibat propaganda golongannya mengklaim tharekat yang terbaik (mu'tabarah), maka barang siapa yang tidak ikut dalam silsilah tharekatnya dianggap tersesat. Kemungkinan juga bisa terjadi kepada Patrap, akan dikatakan sesat oleh sebagian kalangan yang tidak ingin terganggu dengan ajaran-ajaran yang baginya asing dari kebiasaan mereka, bukan kebiasaan Rasulullah. Saya tidak bisa menyimpulkan siapa yang salah dalam peristiwa diatas, tetapi saya bisa merasakan dampak dari pertikaian politik yang berakibat rusaknya persaudaraan yang telah ditata begitu rapih pada masa Rasulullah masih ada. Di zaman yang begitu indah dan monumental pernah berdiri sebuah negara tanpa penjara. Kesadaran hukum begitu tinggi , orang yang merasa bersalah akan datang menghadap kepada kepala negara untuk meminta eksekusi atas kesalahan yang diperbuat dengan membawa sendiri bukti-bukti yang bisa dijadikan landasan hukum positif. Hukum bukanlah milik negara akan tetapi hukum sebagai pribadi masyarakat (Akhlak masyarakat) yang dipimpin oleh Rasulullah (Seorang yang berakhlak Mulia). Sehingga mereka melakukannya atas dasar ikhlas dan ridho yang akan menghasilkan rahmat dari Allah. Saya umpamakan suatu komunitas masyarakat yang telah menyadari bahwa bersih itu penting dan akan menjadikan lingkungannya sehat. Maka dengan demikian orang-orang itu dengan kesadarannya akan membuang sampah pada tempatnya. Itulah yang ditanamkan oleh Rasulullah kita. Bukan sekedar politik-politikan yang dalam sejarah telah mengalami kegagalan yang tak kunjung usai. Beliau menyuruh kita untuk berlaku adil, tidak membunuh sesama, tidak melecehkan orang lain, tidak berkata kasar, tidak boleh saling mengkafirkan, selalu bermusyawarah , bekerja giat, berdagang, tepat waktu , berdakwah, mengasihi sesama , beternak, dan jangan merusak lingkungan, mengadakan penelitian dll.semua itu tidak harus dibutuhkan sebuah negara. Aturan itu merupakan sebuah bentuk keimanan seseorang yang akan terealisasi didalam kehidupannya. Mengapa kita tidak berkonsentrasi membenahi akhlak diri sendiri sehingga sebuah negara akan damai dengan sendirinya karena ummat telah memiliki kesadaran hukum yang tinggi. Kalau kita perhatikan dalam sebuah aliran teologi, sebenarnya mereka mengajarkan sesuatu yang benar , namun kebenarannya dilihat dari satu sisi. Orang fiqih berada dalam kebenaran hukum positif yaitu hukum-hukum dhahir. Aliran tasawuf berada dalam kebenaran rohani, biasanya bahasa-bahasa yang diungkapkan adalah bahasa rasa (dzauqi) yang tidak bisa dimengerti oleh kaum fiqh. Sebagaimana seorang penyair yang sedang dilanda kasmaran dengan puisi-puisi cintanya yang banyak menggunakan kalimat-kalimat metafora, dst. Saya bisa maklum orang-orang fiqh menyesatkan orang tasawuf karena memang yang dibicarakan berbeda wilayahnya. Orang Fiqh berbicara pada sisi fisik dan perilaku lahir, sedangkan orang tasawuf berbicara pada wilayah psikhologis. Hal ini diperlukan ilmu yang sesuai wilayahnya untuk menilainya. Tidak bisa menilai sesuatu dengan ilmu yang berbeda, maka akibatnya akan menyalahkan aliran yang lain karena bukan alat ukurannya. Ilmu fisika tidak bisa disalahkan oleh ilmu jiwa, ilmu sastra tidak bisa diukur oleh ilmu matematika. Dan ilmu antropologi tidak bisa diukur dengan ilmu biologi. Semuanya memilki kebenarannya masing-masing. Semua akan dibutuhkan karena saling menunjang untuk kesempurnaannya. Pahamilah suatu ajaran pada sisinya jangan diperbandingakan dengan selain ukurannya. Maka kita tak akan menemukan kebenaran yang hakiki. Saya tegaskan didalam sebuah hadist maupun Alqur'an , sering kita menemukan kaidah-kaidah yang seolah-olah complicated (bertentangan ). Padahal hal itu merupakan penjelasan yang komplit dari semua dimensi atau wilayah. Ada dimensi dimana Rasulullah berbicara kepada suatu kaum pada persoalan membangun etos kerja. Sebagaimana pada hadist:
Kaadal
fakru an yyakuna kufran. Kefakiran itu bisa menyebabkan kekufuran, Lain
halnya pandangan kita ketika melihat sebuah hadist yang bertentangan dengan
motivasi kedua hadist diatas, seperti dalam hadist. Laisal ghina an kastratil
`aradh walakinnal ghina ghinaun nafs. Yang disebut kekayaan itu bukan
karena banyaknya harta benda, akan tetapi kekayaan itu adalah kekayaan
hati. Kalau kita tidak memahami uslub hadist diatas maka kita akan mendapatkan
dua kelompok yang bertentangan didalam mengambil sikap. Yang satu termotivasi
untuk mencari harta sampai mencapai kekayaan tak terbatas. Yang satu lagi
tidak membutuhkan kekayaan harta benda, malah sebaliknya mereka mencari
ketenangan jiwa dengan banyak Didalam
Alquran juga ditemuinya ayat yang bersifat dimensional atau kebenaran
satu sisi. Misalnya dalam surat. Innallaha la yughayyiru ma bi kaumin
hatta yughayyiru ma bianfusihim. QS.Ar Ra'du: 13 (sesungguhnya
Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, sehingga kaum itu sendiri yang
akan merubah nasibnya ) dan dalam surat.. Waman yattaqillaha yaj'al
lahu makhraja wa yarzuqu min haitsu laa yahtasib... QS.At Thalaaq:
2-3 (barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Allah yang akan
memberikan jalan keluarnya dan diberi rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.
(tidak dengan jalan usaha atau perhitungan pikirannya). Waman yatawakkal
`alalllahi fahuwa hasbuh, barang siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya
Allah akan mencukupkan keperluannya. Kesimpulan pengertian kedua ayat diatas merupakan dua wilayah yang tidak bisa dipertentangkan karena ia mempunyai tugas yang saling mendukung dan saling membenarkan. Akan tetapi kedua ayat tadi bisa juga menjadi pemicu terbentuknya sebuah aliran rasionalis dan spiritualis. Membias menjadi pertentangan yang tidak pernah kunjung ketemu ujungnya. Patrap Sikap dzikir sempurna yang dilakukan oleh Rasulullah adalah sebuah peristiwa yang mengancam hidupnya tatkala tiba-tiba Da'tsur menodongkan pedangnya kearah leher Rasulullah, seraya berkata lantang, siapa yang akan menolong engkau dalam keadaan seperti ini, ya Muhammad ? Allah (yang menolongku), jawab nabi dengan tenang. Jawaban sederhana yang tidak disangka-sangka oleh Da'tsur, merontokkan karang hati yang pongah, tubuhnya bergetar seakan tidak lagi disanggah oleh tulang-tulangnya yang besar. Daya apa gerangan yang mengalir dari mulut Muhammad, membuat jiwanya sesaat seperti mati tak berdaya. Pedangnya terpental jatuh ketanah, kemudian Rasulullah berganti membalas menodongkan pedang kearah leher Da'tsur, dan beliau berkata, siapa yang akan menolong engkau ya Da'tsur ? Ia pun jatuh bersimpuh di kaki Rasulullah sambil mengiba untuk diampuni atas sikapnya yang congkak dan berkata hanya engkau ya Muhammad yang bisa menolongku. Peristiwa diatas merupakan sikap sempurna dari dzikir Rasulullah . Keadaan seperti itulah yang dimaksudkan Islam sebagai kepasrahan dan kepercayaan atas kekuasaan Allah, perlindungan, kedekatan dan kemahatinggian Allah diatas segala-galanya. Sehingga beliau tidak merasa gentar dan khawatir. Sebab dirinya telah menyerahkan hidup dan matinya kepada Allah subhanahu wata'ala..
Orang-orang munafik melakukan shalat, dimana ia menyebut nama Allah namun hanya untuk diperlihatkan kepada orang lain . Dalam Firman Allah :
Rasulullah mengajarkan berdzikir kepada para Sahabatnya. Dari Darda Radhiyallahuanhu : Bersabda Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam, Maukah kalian saya beritakan sesuatu yang lebih baik dari amal-amal kalian, lebih suci di hadapan penguasa kalian (Allah), lebih luhur di dalam derajat kalian, lebih bagus bagi kalian dari pada menafkahkan emas dan perak, dan lebih bagus dari pada bertemu musuh kalian (berperang) kemudian kalian menebas leher-leher mereka atau merekapun menebas leher-leher kalian ? mereka berkata, baik ya Rasulullah. Beliau bersabda: Dzikrullah ! ( Dikeluarkan oleh Thurmudzi dan Ibnu Majah, dan berkata Al Hakim: Shahih isnadnya )
Itulah gambaran dzikir menurut Rasulullah , bahwa dzikir kepada Allah itu bukan sekedar ungkapan sastra dalam melantunkan syair, nyanyian, hitungan lafaz, melainkan suatu hakikat kesadaran penuh dan merasakan kehadiran Allah sangat dekat sehingga menggetarkan jiwa yang mengubahkan perilaku buruk menjadi kebaikan yang berasal dari cahaya-Nya. Itulah dzikir yang sebenarnya yaitu ibadah yang hidup rohaninya,ibadah yang lebih baik dari pada berperang melawan musuh baik membunuh ataupun terbunuh , bahkan lebih baik dari pada bersedekah emas dan perak. Maksudnya adalah tidak ada arti apa-apa apabila beribadah tidak ada rasa ingat kepada Allah ( tidak sadar ), apalagi dilandasi tidak karena Allah (riya'). Dzikir yang dilakukan orang-orang tanpa kesadaran rohani yang tinggi justru akan merusak dzikir itu sendiri, sehingga ternyata banyak orang menyebut nama Allah masih berlaku curang, keji dan mungkar. Namun sebaliknya orang-orang yang melakukan dzikir dengan kesadaran jiwa, dzikirnya akan menggetarkan jiwa yang gelap menjadi sangat terang dan akan mendapatkan ketenangan yang sangat luar biasa. Dan banyak orang berzikir setiap habis shalat mengulang-ulang kalimat "Allah", tetapi hanya sampai pangkal tenggorokan. Dzikir seperti ini dzikirnya orang lalai, pikirannya melayang kemana-mana. Bagaimana akan bisa mengubahkan hatinya sedangkan dirinya tidak menyadari sedang berhadapan dengan sang Penguasa alam semesta. Hanya hati yang membatulah yang tidak tergetar menyebut nama Allah.
Didalam ajaran Patrap (Dzikrullah) yang saya utarakan merupakan ajaran yang bersifat penghayatan, bukan sebuah tharikat yang mewajibkan muridnya untuk mengamalkan wirid-wirid tertentu. Amalan yang dilaksanakan adalah sebuah latihan kejiwaan didalam setiap ibadah. Baik itu didalam shalat, maupun berdzikir dalam keseharian pada umumnya. Dzikir yang dilakukan adalah mengupayakan hati selalu hadir dan tuning (nyambung) terus menerus dalam setiap keadaan . Sehingga rasa itu akan hidup tanpa kita rekayasa. Hasilnya biasanya hati berdzikir sendiri tanpa henti-henti bukan muncul dari pikiran tetapi keluar dari jiwa yang dalam. Syariat yang digunakan adalah apa yang telah kita dapatkan dari rasulullah, tidak khusus apalagi harus sama dengan saya. Sehingga ajaran Patrap (dzikrullah) mudah diterima oleh seluruh aliran teologi. Di kalangan Muhammadiyah kami masuk melalui cara shalat , bagaimana seharusnya secara kejiwaan bisa nyambung (silatun), pikiran tidak melayang kemana-mana. Dan di kalangan salafi diterima karena saya tidak menghipnosa atau menuntun cara melakukan riyadhahnya dalam berdzikir. Cukup dengan sebuah kesadaran yang tinggi anda akan dituntun ke alam yang luas dan damai ,disanalah jiwa merasakan kehakikiannya. Jiwa anda akan merasakan bersama Allah bahkan ketika disebut Namanya akan bergetar dan nikmat yang luar biasa. Subhanallah !! Patrap tidak mengajarkan syariat berdzikirnya, tetapi bagaimana belajar menghayati syariat yang telah kita dapatkan dari guru-guru kita. Itu saja !! Dan membahas persoalan mendasar secara psikologis, mengapa kita tidak pernah khusyu dalam Shalat atau ketika sedang menyebut Nama Allah ? Untuk lebih jelasnya anda bisa membaca buku "Berguru kepada Allah" , yang telah tersedia. Wassalamu'alaikum
WW. Referensi
: |
||
|
Copyright
© Yayasan Bukit Thursina 2002
|
|||