Nama Abu Sangkan
Subyek Re : Tali Rasa
Tanggal 3 Agustus 2001; 07.20
 

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh


Saya telah membaca pertanyaan anda mengenai "apakah betul kita memiliki tali rasa yang juga bisa disambungkan dengan orang lain sehingga kita bisa mempengaruhi orang tersebut? Apakah ini yang digunakan oleh guru-guru sufi untuk mengetahui tentang perkembangan muridnya. Bagaimana mekanismenya ?

Kalau kita berbicara soal rasa, kita kembali akan membicarakan sesuatu yang universal. Dimana " rasa" adalah sebuah keadaan yang dimiliki oleh setiap makhluk. Tidak terbatas kepada hanya kepada manusia saja, akan tetapi kita akan mengetahui bahwa rasa itu dimiliki oleh binatang , tanaman, gunung, angin, dan semua makhluk ciptaan Allah. Oleh karena pengetahuan kita yang sering kali membatasi wacana keuniversalan, maka kita hanya menyadari bahwa rasa itu terdapat pada diri kita sendiri saja yang lainnya tidak berperasaan. Kemudian adakah kaitannya perasaan kita dengan alam semesta ??

Untuk memudahkan wacana yang akan saya paparkan, saya akan mencontohkan rasa yang meliputi tubuh kita. Didalam sekujur bentuk tubuh manusia di liputi oleh rasa seperti kepala, telinga, mata, tangan, perut, jantung, paru-paru, tangan, kaki dll. Kalau kita memegang telinga, si telinga akan "merasa", kemudian kita mencubit paha si paha akan "merasa", dan setiap alat-alat tubuh kita akan "merasa", dikarenakan setiap bentuk tadi "merasa" jika disentuh atau di cubit, maka kita beranggapan seakan-akan rasa itu banyak dan bermacam-macam rasa. Yaitu rasanya telinga, rasanya hati, rasanya jantung, rasanya, hidung, rasanya perut dll.

Rasa itu bisa melihat tanpa harus menggunakan mata …. kita bisa mengetahui lobang telinga dan memasukkan jari kelingking tanpa harus melihat melalui cermin untuk memasukkannya, demikian pula untuk mengetahui sesuatu yang membuat gatal di punggung, atau melihat (baca: melalui rasa) letak ubun-ubun secara pasti juga tanpa meminta bantuan orang lain. Mengapa demikian, karena rasa itu hanya satu yaitu rasa hakiki yang meliputi tubuh manusia, sehingga ia mengetahui dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain. Kalau kita membatasi kesadaran rasa itu hanya pada telinga, kaki, maka akan muncul seakan berjauhan antara rasa tersebut dan tidak ada hubungan sama sekali, atau dianggap setiap bentuk mempunyai oknum rasa tersendiri yang berbeda dengan rasa yang ada pada telinga atau yang lainnya. Sebenarnya tidaklah demikian, karena "rasa" itu berasal dari jiwa yang menyelimuti setiap tubuh, bahkan meliputi alam semesta (baca, pada artikel saya Bab hakikat manusia ). Ketidak tahuan akan hakikat rasa itulah yang menghijab bahwa rasa itu sebenarnya hanya satu. Yang dirasakan oleh semua bentuk, telinga, mata, dan lain sebagainya.

Untuk mengetahui lebih jelas mengenai rasa universal hendaknya anda memulai dengan menyadari bahwa tubuh anda sebenarnya sebuah aksi sebuah peristiwa, dimana tubuh merupakan untaian senyawa-senyawa alam yang saling mengikat dengan alam sekitarnya. ( hal ini sudah saya uraikan pada bab hakikat manusia ). Tubuh adalah sebuah peristiwa gerak inti materi yang amat kecil, gerak-gerakan dengan kecepatan 300 km/detik sekilas tampak seperti bentuk. Perhatikanlah kipas angin yang bergerak berputar. Secara kasat mata kita menangkap bahwa kipas itu
berbentuk lempengan bundar, padahal kenyataannya adalah berupa baling-baling. Bentuk lempengan tadi pada hakikatnya adalah sebuah peristiwa berputarnya baling-baling kipas. Demikian pula dengan peritiwa serangkaian gerak atom yang padat sehingga membentuk batu-batuan tumbuhan, gunung, manusia lautan dll. Seperti firman Allah :

"Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap ditempatnya, padahal ia berjalan (bergerak) sebagaimana jalannya awan" (QS. An Naml:88)

Bagi orang awam, sebuah gunung, batu, tumbuhan memang tampak kokoh berdiri ditempatnya masing-masing, namun kesadaran ilmu pengetahuanlah yang akan membuka hakikat sebenarnya. Sehingga anda menyadari bahwa diri anda sebenarnya adalah alam semesta ini yang amat luas dan selalu bergerak mengikuti kehendak ilahi. Demikian selanjutnya anda akan menyadari bahwa jiwa anda tidak berada di dalam rongga tubuh manusia ini. Akan tetapi keadaannya yang amat luas seperti luasnya alam semesta. Hal ini pun disadari dengan hakikat yang sebenarnya.

Allah memanggil jiwa yang sadar dengan sebutan ya ayyatuhan nafsul muthmainnah, wahai jiwa yang universal ~ pencapaian kesadaran yang universal inilah yang akan mampu menangkap rasa yang dirasakan oleh orang lain maupun alam semesta.

Secara praktis saya tidak bisa berbicara melalui tulisan, lebih lanjut sebaiknya dibicarakan melalui diskusi secara langsung …. karena praktis itu sebenarnya memasuki dengan membangkitkan kesadaran yang muthmainnah.. Hal ini sudah saya urai dalam methode-methode praktis seperti ditulis pada bab membuka hijab, bab Dzikrullah. Insya Allah jika anda berkenan hadir, bisa berdiskusi lebih intens dengan saya pada Kajian Tazdkiyatun Nafs yang rutin diselenggarakan setiap malam Minggu di Islamic Center Bekasi.

Demikian mudah-mudahan wacana diatas menjadi awal sebagai pijakan untuk mengetahui lebih dalam hakikat diri dan kaitannya dengan alam semesta. Disanalah anda akan faham tali rasa sebenarnya. Sekali lagi saya mohon maaf, apabila penjelasan ini tidak memuaskan atas pertanyaan anda. karena rasa itu bukan ilmu akan tetapi berupa keadaan ( hal ), maka anda harus memasuki keadaan tersebut secara langsung bukan berteori. Salah satunya dengan cara berdzikir, karena berdzikir adalah praktek membuka kesadaran pertama untuk mengetahui kedalaman hakikat sesuatu.

Salam
Abu Sangkan

 
Copyright © Yayasan Bukit Thursina 2002