Assalamu'alaikum
warahmatullahi wabarakatuh
Pertanyaan
anda mengenai bagaimana cara mempraktekkan bahasa ruhani, sebenarnya
sekilas telah saya uraikan dalam keterangan saya tersebut. Memang
agak sedikit tersirat (samar ), namun sulit bagi saya untuk
menjelaskan masalah rohani dalam bentuk bahasa tulisan ~ karena
untuk mempelajari bahasa rohani haruslah melalui praktek, disamping
karena hal ini bersifat rasa atau intuisi. Oleh karenanya hal
ini harus dilakukan melalui pengalaman secara langsung (experience),
yaitu menjalankan laku kerohanian atau menghidupkan rohani yang
selama ini kita sedikit sekali memanfaatkannya. Hal tersebut,
karena kita telah terjebak oleh logika sempit yang dihasilkan
oleh dominasi otak (pikiran).
Baru
sekarang saya menyadari, bahwa ternyata orang-orang barat sebenarnya
telah lama memfungsikan kecerdasan emosinya (Emotional Intelligence)
dan kecerdasan rohaninya (Spiritual Intelligence). Hal ini diperperkuat
oleh prinsip bahwa spiritual itu lebih tinggi dari pada pikiran,
seperti disebutkan dalam Alqur'an surat Ali Imran ayat : 190-191
Mari
kita bahas masalah kedudukan kecerdasan pikiran dan kecerdasan
spiritual, pada ayat di atas.
Pertama
Allah mengatakan bahwa di dalam penciptaan langit dan bumi dan
silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda kekuasaan
Allah bagi kaum yang memiliki kecerdasan. Siapakah yang memiliki
kecerdasan ( ulul Albab )itu ? Adalah orang yang berdzikirullah
(orang yang memfungsikan kesadaran spiritualnya kepada Allah)
pada saat berdiri, duduk, atau berbaring. Maka akan muncul kecerdasan
yang bersifat universal yakni intuisi atau ilham.
Kalau
anda perhatikan pada susunan tata bahasa Arab pada ayat tersebut
bahwa kalimat alladzina yadzkuruunallah qiyaman wa qu'uudan
wa ala junuubihim wa yatafakkaruna fi khalqissamawati wal ardha
..
Kalimat
yadzkurunallah (menginngat Allah), merupakan ma'tuf (tempat
bersandarnya) kalimat sesudahnya, dengan ditandai kata wa (waw
athaf) kemudian pada penghujung ayat terdapat kalimat wa yatafakkaruna
(mereka merenungkan / berfikir), artinya perbuatan berfikir
kedudukannya berada dibawah perbuatan mengingat Allah karena
mengingat Allah merupakan loncatan berfikir melampau alam-alam
material menuju alam ide yang bisa terjadi setelah mengidupkan
kesadaran spiritualnya. Dengan demikian dapat dipertegas bahwa
orang yang cerdas spiritualnya secara otomatis pikirannyapun
akan cerdas melebihi orang yang hanya berfikir menggunakan IQ-nya.
Karena kalimat yatafakkaruna (berfikir) bersandar kepada kalimat
yadzkurunallah (menghidupkan kesadaran spiritual ingat kepada
Allah) yang akan menghasilkan intuisi atau ilham
Robert
K. Cooper, PhD didalam bukunya berjudul Executive EQ, menyatakan
bahwa: "kesadasaran emosi berasal bukan dari perenungan
intelektual yang jarang digunakan, melainkan dari hati manusia
~ yang merupakan sumber energi yang menjadikan kita nyata dan
yang memotivasi kita untuk mengenali dan mengejar serta tujuan
hidup kita yang unik. "
Ada
baiknya kita memperhatikan pendapat seorang pemikir revolusioner,
Pitirin A Sorokin. Sebagai orang yang diancam hukuman penjara
dan hukuman mati oleh Lenin, ia terpaksa lari ke Amerika Serikat,
tempat ia tumbuh subur dalam prestasi akademis sampai menjadi
salah seorang filusuf dan sosiolog terbesar abad ini. Ia mencurahkan
seluruh hidupnya untuk melakukan analisis yang komprenhensif
terhadap masyarakat di mana pada akhirnya ia menyatakan bahwa
berbagai krisis yang dihadapai dewasa ini membutuhkan pemecahan
dengan pendekatan yang berbeda dari sekadar menggunakan pengetahuan
- pendekatan yang lebih dari nalar dan kelima indra tradisional.
Bagi Sorokin, ada tiga bentuk kebenaran: pengindraan, rasional,
dan intuitif. Banyak tokoh bisnis menyebut kebenaran intuitif
ini sebagai "insting bathiniah" atau penilaian.
'Intuisi'
kata Sorokin, adalah fondasi paling penting bagi pemahaman kita
atas etika, atau hal-hal yang baik dan berharga dalam hidup.
Dalam psikologi dan filsafat, sudah sangat dipahami bahwa estetika
dan penilaian moral didasarkan pada perasaan yang sangat subjektif,
bukan pada perenungan otak yang samar-samar. Apabila dikembangkan
secara aktif, intuisi akan memperluas dan
mempertinggi kecerdasan emosional dan sebagaimana ditemukan
oleh Sorokin, merupakan sumber utama pengetahuan pribadi.
Diantara
mereka yang mendukung pandangannya bahwa intuisi adalah dasar
kebenaran adalah Plato, Aristoteles, Plotinus, santo Agustinus,
Thomas Hobbes, Henri Bergson, Baruch Spinoza, Carl Jung, dan
Alfred Nort White head. Bahkan pendukung fanatik rasionalitas
John Stuart Mill menyatakan., kebenaran yang berasal dari intuisi
merupakan kebenaran yang dijadikan acuan bagi semua
kebenaran lain.
Pada
jawaban yang lalu (bahasa Ruh), saya telah menjelaskan dua fenomena
yang di manfaatkan orang di dalam memahami bahasa ruhani ini.
Yaitu memfungsikan jiwanya dengan cara meditasi secara tekun.
Sementara Al Qur'an sendiri memaparkan dengan gamblang bahwa
berdzikrullah adalah satu-satunya cara mudah untuk membangkitkan
rohaninya agar mampu menangkap ilham-ilham yang datang dari
Allah Swt. Seperti sering kita dengar bahwa Allah berfirman"
ittaquullah yu'allimukullah" ~ bertakwalah kalian Allah
akan mengajarkan kalian. Allah mengajarkan manusia apa-apa yang
tidak diketahuinya.(QS 96:5 )
Barang siapa yang bertakwa
kepada Allah Dia akan memberikan (intuisi) jalan keluarnya
.(QS:65:
2-3). Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, tentu Dia
akan menunjuki "hatinya" ( QS: 64:11)
Selanjutnya
untuk lebih mudahnya saya menyarankan anda untuk mempraktekkan
dzikrullah yang pernah saya tulis pada bab Dzikrullah (Patrap).
Lakukanlah dengan serius, sehingga anda benar-benar akan mendapatkan
getaran jiwa yang mampu membaca ilham yang tidak berupa huruf
dan bukan berupa suara. Disanalah semua pengetahuan tergelar
dan merupakan pusatnya ide-ide cemerlang. Kadang-kadang anda
akan terheran sendiri misalnya ketika tiba-tiba anda diberi
kefahaman bahwa sebentar lagi anda akan naik jabatan di kantornya
padahal belum ada seseorang yang memberitahukan .
Insya
Allah, jika anda sudah mempraktekkan dzikrullah saya akan melanjutkan
keterangan lebih dalam mengenai memanfaatkan getaran jiwa tersebut
sampai anda bisa merasakan sendiri. Atau anda bisa berdikusi
secara lebih intens, bila anda berkesempatan menghadiri Acara
Kajian Tazkiyyatun Nafs Terbuka, di Islamic Center, Ruang Muzdalifah,
Bekasi, setiap Sabtu malam Minggu.
Wallahu
a'lam
Wassalam
Abu Sangkan