![]() |
![]() |
||||
|
Patrap
(Makna Dzikrullah)
|
||
|
Kita mengetahui bagaimana bintang-bintang itu beredar pada porosnya sebagaimana mengetahui tumbuh-tumbuhan, gunung-gunung berdiri dan bergerak mengikuti sunnah-Nya, sesungguhnya semuanya itu bersujud dan bertasbih kepada khaliknya. Akan tetapi kita tidak mengetahui bagaimana cara mereka bersujud dan bertasbih. Firman Allah :
Ayat-ayat di atas memberikan gambaran kepada kita bahwa tasbih mereka bukanlah sebuah kata-kata seperti manusia bertasbih, akan tetapi merupakan bentuk kepasrahan dan kepatuhan atas perintah Allah, sehingga gerak mereka serta arah tujuannya berserah atas kehendak perintah Ilahi. Dengan demikian butir-butir atom, bumi, matahari, bintang-bintang bergerak pada orbit atau garis yang telah ditentukan oleh-Nya. Itulah yang dinamai ber-islam, yang artinya berserah diri atas kemauan Allah Yang Maha Pengasih. Yaitu pasrah atas peraturan-peraturan (sunnah-sunnah) yang telah ditentukan oleh Allah Swt. Maka dari itu paradigma pasrah bukanlah orang pasif yang tidak bergerak, malah sebaliknya orang yang pasrah adalah orang aktif yang mengikuti perintah-perintah di dalam syariat, berdagang, belajar, berperang, membayar zakat, berhaji, beternak, bertani, bermanajemen dll. Hal ini diibaratkan seperti kalau kita membeli sebuah mobil. Si perancang telah menyiapkan manualnya untuk memudahkan kita menghidupkan dan menjalankan mesin mobil tersebut, serta untuk mengetahui suku cadang yang harus diganti jika terjadi kerusakan. Manual yang berisi ketentuan/aturan ini tidak bisa diganti seenaknya sesuai dengan kemauan kita, karena bisa-bisa akan mengakibatkan benturan/berlawanan dengan keinginan perancangnya, yang pada akhirnya mungkin akan membuat mesin mobil menjadi rusak dan tidak dapat berjalan dengan baik. Perbuatan mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan oleh perancang dalam ilustrasi diatas menggambarkan kepasrahan dan kepatuhan terhadap ketentuan si perancang. Demikian pula dengan kepasrahan terhadap ketentuan yang telah ditulis dalam Al Qur'an dan Al Hadist ataupun dalam ayat-ayat kauniyah (hukum yang diikuti oleh alam semesta / hukum alam), semuanya mengikuti sistem dan keinginan ilahi. Mereka bersujud patuh atas ketetapan-Nya dengan suka hati. Didalam serat Pepali Ki Ageng Selo, dzikir berarti patrap, yaitu orang susila, orang beradab. Peradaban atau kesusilaan seseorang ditentukan oleh pendirian hidupnya dan kesusilaan dalam arti kata yang sedalam-dalamnya dan terikat pada sarat-sarat utama, yaitu dapat menguasai diri sendiri, yang dijabarkan sbb :
Orang patrap (dzikir, sadar) dalam Islam diidealisasikan dalam sosok Nabi Muhammad sebagai uswatun hasanah, tidak kenal rasa takut tidak gentar dalam keadaan bagaimanapun juga, beliau selalu sabar, dan tenang dan selalu diliputi oleh rasa kasih sayang kepada sesama hidup dan karena itu beliau dicintai oleh semua ummat manusia, beliau mencintai segala ciptaan Allah. Sikap dzikir sempurna seperti itu pernah dicontohkan Rasulullah, tatkala tiba-tiba Da'tsur menodongkan pedangnya kearah leher nabi, seraya berkata lantang: "Siapa yang akan menolong engkau dalam keadaan seperti ini, ya Muhammad?". "Allah yang menolongku", jawab nabi dengan tenang. Jawaban
sederhana
yang
tidak
disangka-sangka
oleh
Da'tsur,
merontokkan
karang
hati
yang
pongah,
tubuhnya
bergetar
seakan
tidak
lagi
disanggah
oleh
tulang-tulangnya
yang
besar.
Daya
apa
gerangan
yang
mengalir
dari
mulut
Muhammad,
membuat
jiwanya
sesaat
seperti
mati
tak
berdaya.
Pedangnya
terpental
jatuh
ketanah,
kemudian
Rasulullah
berganti
membalas
menodongkan
pedang
Peristiwa di atas merupakan sikap sempurna dari Dzikir Rasulullah. Keadaan seperti itulah yang dimaksudkan islam sebagai kepasrahan dan kepercayaan akan kekuasaan Allah, perlindungan, kedekatan dan kemahatinggian Allah diatas segala-galanya. Dzikir
kepada
Allah
bukan
hanya
sekedar
menyebut
nama
Allah
di dalam
lisan
atau
didalam
pikiran
dan
hati.
Akan
tetapi
dzikir
kepada
Allah
ialah
ingat
kepada
Asma,
Dzat,
Sifat,
dan
Af''al-Nya.
Kemudian
memasrahkan
kepada-Nya
hidup
dan
mati
kita,
sehingga
tidak
akan
ada
lagi
rasa
khawatir
dan
takut
maupun
gentar
dalam
menghadapi
segala
macam
mara
bahaya
dan
cobaan.
Sebab
kematian
baginya
merupakan
pertemuan
dan
kembalinya
ruh
kepada
raja
diraja
Yang
Maha
Kuasa.
Mustahil
orang
dikatakan
berdzikir
kepada
Allah
yang
sangat
dekat,
ternyata
hatinya
masih
resah
dan
takut,
berbohong,
tidak
patuh
terhadap
perintah-Nya
dll.
Konkritnya
berdzikir
kepada
Allah
adalah
merasakan
keberadaan
Allah
itu
sangat
dekat,
sehingga
mustahil
kita
berlaku
tidak
senonoh
Seperti yang pernah saya singgung mengenai syetan yang ma'rifat kepada Allah, bertauhid kepada Allah, dan berdo'a kepada-Nya, memuja-Nya, namun ia enggan mengikuti perintah-Nya. Orang berdzikir seperti ini sama kedudukannya dengan kedudukan syetan yang terkutuk.
Kalau
kita
perhatikan
dialog
Iblis
dengan
Allah
di atas,
kelihatan
sekali
bekas
keakraban
antara
Khaliq
dan
makhluq-Nya.
Dia
sangat
percaya
kepada
Allah,
dia
bertauhid,
dan
mengetahui
bahwa
tidak
ada
tuhan
kecuali
Allah,
dia
juga
memuja
Allah
dengan
menyebut
"faizzatika"
(demi
kekuasaan
Engkau).
Dia
selalu
memanggil
Allah
dengan
sebutan
"Ya
Rabbi"
(Ya
tuhanku),
dan
yang
terakkhir
dia
dikabulkan
doanya
agar
dipanjangkan
usianya
sampai
hari
kiamat.
Hampir
saja
sempurna
sang
iblis
sebagai
hamba
yang
sangat
dekat,
memohon
kepada
Allah
(berdo'a),
bertauhid
dan
berma'rifat
kepada-Nya.
Hanya
satu
kesalahan
sang
iblis
ini,
yaitu
tidak
mau
mengindahkan
perintah-Nya
untuk
bersujud
(menghormati)
kepada
Adam.
Berarti
ia tidak
mengakui
atau
tidak
menerima
keputusan
Ada sebagian ahli dzikir yang tidak mau melaksanakan ibadah shalat, dengan dalil sudah sampai kepada tingkat ma'rifat atau fana. Dengan alasan wa aqimish shalata lidzikri (dirikanlah shalat untuk mengingat Aku ... QS 20:14), karena tujuan shalat adalah ingat. Namun ia tidak sadar, bahwa ingat disini ... tidak hanya kepada nama-Nya atau kepada dzat-Nya, akan tetapi konsekwensinya harus menerima apa kemauan yang diingat, yaitu kemauan Allah Swt seperti apa yang telah diperintahkan didalam syariat-Nya . Bandingkan
dengan
sikap
syetan
yang
tidak
mengikuti
kemauan
Ilahi.
Perbuatan
khariqul
`adah
(meninggalkan
kebiasaan
syariat)
dianggap
perbuatan
seorang
waliyullah.
Padahal
nabi
Muhammad
dan
para
sahabat
menegakkan
syariat
shalat,
dan
mu'amalah.
Sedang
kedudukan
beliau
berada
diatas
para
wali
manapun
di dunia.
Dengan
alasan
yang
seakan
masuk
akal,
serta
dengan
ditandai
Lalu Apa yang Dimaksud dengan Dzikir Lisan, Dzikir Qalbi atau Dzikir Sirri? Syekh Ahmad Bahjad dalam bukunya "Mengenal Allah", memberikan pengertian sbb : "Dzikir secara lisan seperti menyebut nama Allah berulang-ulang. Dan satu tingkat diatas dzikir lisan adalah hadirnya pemikiran tentang Allah dalam kalbu, kemudian upaya menegakkan hukum syariat Allah dimuka bumi dan membumikan Al Qur'an dalam kehidupan. Juga termasuk dzikir adalah memperbagus kualitas amal sehari-hari dan menjadikan dzikir ini sebagai pemacu kreatifitas baru dalam bekerja dengan mengarahkan niat kepada Allah ( lillahita'ala )." Sebagian ulama lain membagi dzikir menjadi dua yaitu: dzikir dengan lisan, dan dzikir di dalam hati. Dzikir lisan merupakan jalan yang akan menghantar pikiran dan perasaan yang kacau menuju kepada ketetapan dzikir hati; kemudian dengan dzikir hati inilah semua kedalaman ruhani akan kelihatan lebih luas, sebab dalam wilayah hati ini Allah akan mengirimkan pengetahuan berupa ilham. Imam Alqusyairi mengatakan : "Jika seorang hamba berdzikir dengan lisan dan hatinya, berarti dia adalah seorang yang sempurna dalam sifat dan tingkah lakunya." Dzikir kepada Allah bermakna, bahwa manusia sadar akan dirinya yang berasal dari | ||