![]() |
![]() |
||||
|
Penyucian
Jiwa
|
||
|
Saudara-saudaraku, ... sementara ini, saya anggap Saudara semua sudah mengerti tetang dasar-dasar agama, ... persoalan-persoalan furuiyah (khilafiyah / perbedaan pendapat) mari kita kesampingkan dulu, ... kita hadapkan hati kita dan wajah kita kehadirat Allah dengan penuh tawaddhu' dan rasa ihsan. Seandainya kebetulan saudara adalah seorang yang mahir tentang agama sementara yang lain kurang dalam hal pengetahuan agama. Bisakah kiranya kita mencontoh sayyidina Bilal bin Rabah seorang budak berkulit hitam dan sayyidina Salman Alfarisi yang intelektualnya diacungi jempol oleh Rasulullah. Dimana keduanya sangat mencolok mata dari segi fisik dan derajat dimata manusia, namun keduanya duduk sama derajatnya di hadapan Allah tanpa melihat dia sebagai apa. Merekalah contoh orang yang mendapatkan petunjuk dan rasa iman yang tinggi serta kemakrifatan akan Tuhannya. Saya mengingatkan kembali bahwa setiap tulisan saya, adalah bertujuan mengajak bersama-sama menelusuri kajian "Dzauq" atau kedalaman rasa iman, yang bahkan Rasulullah menyebutnya sebagai "halawatul iman" (manisnya iman ) Kajian pada bab-bab sebelumnya sudah saya jelaskan secara singkat mengenai syariat, etika Islam, dan hakikat manusia , dimana didalamnya tercantum persoalan dasar untuk menelusuri jalan Allah . Kita tinggal menjalaninya dengan perlahan dan sungguh-sungguh !!! Yang pertama sekali kita perhatikan adalah sosok " JIWA" Allah berfirman :
Ketahuilah bahwa jiwa adalah musuh dengan wajah seorang teman. Kekejaman dan daya tipunya tidak ada habisnya. Menolak kejahatannya dan menaklukkannya merupakan tugas yang paling penting, karena jiwa adalah musuh yang paling buruk, lebih buruk dari setan dan kaum kafir...... Untuk melatih jiwa dan membawanya kembali kepada keadaan yang sejahtera dan membuatnya meningkat dari sifat menguasai kejahatan menuju tingkat berdamai dengan Allah merupakan tugas besar. Puncak kebahagiaan manusia terletak pada penyucian jiwa. Sementara puncak kesengsaraan manusia terletak pada tindakan membiarkan jiwa mengalir sesuai dengan tabiat alamiah. Itulah sebabnya Allah befirman : "Sungguh beruntung orang yang membersihkan jiwanya dan sungguh merugi orang yang mengotorinya ... " Alasannya
karena penyucian
jiwa dan latihan
jiwa mengakibatkan
dikenalnya jiwa,
dan pengenalan
jiwa menimbulkan
pengetahuan
akan Tuhan,
sebab barang
siapa yang mengenal
jiwanya sendiri
akan mengenal
Tuhannya.
Jiwa yang seperti inilah yang kita tuju, tentunya dengan niat dan perjuangan yang sungguh-sungguh.
Membuka Jalur Komunikasi Dengan Allah Rasulullah pernah berwasiat kepada Sayyidina Muadz bin Jabal tentang bacaan doa yang didawamkan "Ya Allah , ajarkan aku tentang ingat (dzikir ) kepada Engkau, dan syukur serta ajarkan kekhusyu'an dalam beribadah kepada-Mu". Wasiat di atas merupakan pintu untuk membuka jalur komunikasi kepada Allah dimana ada hal-hal yang manusia tidak mampu mendialogkan kepada orang lain atau manusia tidak bisa menunjuki jalan yang diinginkan. seperti yang tercantum dalam do'a Sayyidina Muadz bin Jabal di atas, hanya kepada Allah-lah kita meminta pertolongan dan petunjuk. (QS 1:5) Komunikasi adalah melakukan dialog langsung secara lugu dan polos sesuai dengan keadaan hati kita, tidak perlu bergaya-gaya dihadapan Allah apalagi dilagu-lagukan. Cukup diam dengan rasa rendah hati (tawadhu'), dan menjaga kesopanan di hadapan Allah, serta rasakan bahwa Allah sedang berada sangat dekat bahkan lebih dekat dari urat leher kita. Panggillah Asma-Nya yang baik-baik .... Ya Allah...Ya Allah ... Ya Allah berulang-ulang dengan menghadirkan hati serta kerinduan yang dalam. Hal tersebut selalu harus terus anda lakukan setiap habis melakukan shalat. Kemudian kalau ada kesempatan waktu lakukanlah dialog-dialog dimana saja berada karena Allah ada dimana saja anda berada. Kalau
seandainya tiba-tiba
anda menangis
ketika berdzikir
atau bahkan
ketika shalat
... hal tersebut
tidak perlu
dirisaukan karena
Al Qur'an telah
menjamin dan
akan membimbing
perjalanan kita
... mudah-mudahan
anda mendapatkan
karunia dari
Allah swt. amin
(buka surat
Maryam Didalam tafakkur kita sebaiknya tetap berbekal ilmu syariat , bahwa Allah bukan laki-laki juga bukan wanita atau tidak bisa dibayangkan dan disamakan dengan makhluqnya. Mulailah setiap melakukan dialog dengan didahului membaca :
Bisa dilakukan dalam posisi berdiri, duduk, maupun berbaring ..(QS 4:103). Hubungkan hati kita, perasaan kita, dan coba timbulkan rasa rindu dan cinta kepada Allah, panggil Asma-Nya berulang-ulang (tanpa menghitung-hitung jumlahnya) dengan suara hati yang dalam ... lakukan dengan sungguh-sungguh sehingga terasa ada sambutan yang menyeruak dalam kalbu kita ... rasakan kedamaian dan keheningan yang sejuk di dada ... sebut terus Ya Allah ...Ya Allah ... Ya Allah ... dan kuatkan hati kita tetap berpegang kepada tauhid hanya Allah tujuan kita, hunjamkan sampai kedalam lubuk hati yang dalam ... sehingga akan ada bimbingan di dalam hati kita untuk selalu ingat Allah ... hati kita akan bergerak terus seakan-akan tidak mau diajak untuk berhenti ... terkadang ucapan dzikirnya berubah dengan sendirinya ... ya Allah .... ya Allah berganti la ilaha illallah ....dan seterusnya ... Tubuh akan semakin ringan dan pasrah ... hati menjadi lebih tenang dan terang benderang ... rasanya sejuk dan nyaman yang akan mengakibatkan hati menjadi lunak dan mudah terkendali. Keadaan tubuh kadang terasa semakin berat ... getaran jiwa semakin kuat dan ... emosi jiwa semakin tidak bisa dibendung, rasanya ingin sekali berteriak sekeras-kerasnya untuk mengungkapkan rasa kerinduan yang dalam kepada Allah ... Saat itulah kita pasrahkan seluruh jiwa raga kita dengan ikhlash ... sehingga Allah akan berkehendak membimbing sholat... membimbing ruku' dan membimbing hati kita untuk bersabar...(lihat surat Az Zumar ayat 22-23)
Allah
telah menurunkan
perkataan yang
paling baik
(yaitu) Al Qur'an
yang serupa
mutu ayat-ayatnya
lagi berulang-ulang,
gemetar karenanya
kulit orang-orang
yang takut kepada
Tuhannya, kemudian
menjadi tenang
kulit serta
hati mereka
diwaktu mengingat
Allah, itulah
petunjuk Dan kali ini saya menepati janji saya untuk mengungkapkan praktek dalam Dzikrullah (pembersihan jiwa). sebab pada intinya "JIWA" lah yang menjadi penyebab kerusakan manusia ... , dan pada jiwa pula manusia menjadi tinggi derajadnya disisi Allah ... sedang kebersihan jiwa hanya bisa ditempuh dengan jalan mengingat Allah (Dzikrullah) secara terus menerus ... serta ... berusaha keras menghadap untuk berbakti kepada Allah kemudian berpaling dari kemauan syahwat itulah yang membersihkan dan menjernihkan hati. Secara luas, Al Qur'an menggambarkan sebagai fokus dari apa yang membuat seorang manusia menjadi manusiawi, pusat dari kepribadian manusia. Dan karena manusia terikat erat dengan Allah, pusat ini merupakan tempat dimana mereka bertemu Tuhan. Pertemuan ini merupakan dimensi kognitif dan juga dimensi moral. Karena hati merupakan pusat sejati dari seorang manusia. Tuhan menaruh perhatian khusus padanya dan kurang begitu memperhatikan amalan-amalan aktual yang dilakukan orang-orang "Tidak ada celanya jika kamu berbuat salah, kecuali jika hatimu menyengaja" (QS 33:5).
Dan sebuah Hadist menyatakan bahwa "Allah tidak melihat badanmu atau bentukmu ,melainkan kedalam hatimu ". Karena hati adalah tempat yang dilihat Tuhan, ia merupakan kunci menuju kemunafikan, watak yang paling buruk dalam pandangan muslim. "Tuhan tahu apa yang ada dalam hatimu" (QS 33:51). Hati adalah tempat dimana Tuhan mengungkapkan diri-Nya sendiri kepada manusia . Kehadiran-Nya terasa didalam hati, dan wahyu diturunkan kedalam hati para Nabi .
|
||
|
Copyright
© Yayasan Bukit Thursina 2002
|
|||