Guru
 

Istilah 'guru' sebenarnya berasal dari pengajaran Yesus Kristus kepada muridnya yang memanggil dirinya dengan sebutan guru dan pengikutnya disebut dengan murid.(lihat kitab Barnabas). Juga dari ajaran Hindu tentang Bethara guru sebagai afathara, artinya sebagai perantara manusia. Akan tetapi sejak Muhammad saw. di utus sebagai Nabi, istilah pengikut nabi itu berubah menjadi sahabat.. Begitu pula sampai kepada sahabat, kepada generasi selanjutnya disebut sebagai tabiin (pengikut sahabat) dan pengikut tabiin disebut tabit tabiin dan seterusnya ...akan tetapi setelah pergolakan politik islam yang terjadi setelah wafatnya Rasulullah, masing-masing pihak mengklaim yang paling benar, bahkan hadist-hadist Rasulullah sudah mulai dipalsu karena kepentingan kelompok untuk mematahkan kelompok yang satu dengan yang lain....sampailah puncak kekacauan politik mengakibatkan hampir seluruh ummat tidak memiliki pegangan yang pasti dan benar, karena terlalu banyak hadist palsu.dan tidak banyak orang yang faham mana yang palsu dan mana yang shahih, karena pergolakan itu berlangsung seratus tahun lebih lamanya.

Pertentangan politik kekhilafahan yang timbul sejak akhir ke khilafahan Ustman dan awal pemerintahan `Ali adalah merupakan sebab-sebab yang langsung munculnya hadist-hadits maudhu'/ palsu. Diwaktu itu timbul partai syi'ah dan golongan Muawiyah. Dan setelah selesai perang shiffin timbul pula golongan khawarij. Pada masa itulah timbul kelompok-kelompok yang membenarkan golongannya, untuk mencari simpati publik dan mengikutinya ..

Setelah sekian lama kekacauan dan kekacauan timbul, maka muncul masalah baru, yaitu masalah ke absahan hadist yang mulai tidak jelas sanadnya akibat banyaknya hadist palsu yang di keluarkan oleh masing-masing kelompok tersebut. Warisan sunnah ini menjadi cacat, para ulama prihatin akan hal ini, sehingga inisiatif untuk mengumpulkan hadist dan menyeleksi kembali kebenaran berita hadist/ riwayat hadist segera dibentuk tim pencari fakta atas kebenaran hadits tersebut. Perintis pertama ilmu riwayah, ialah Muhammad bin Syihab Az Zuhri yang wafat pada tahun 124 Hijrah, kemudian diikuti Bukhary, Muslim, An Nasai dll.

Peristiwa-peristiwa yang disebutkan di atas inilah yang menjadikan para ulama prihatin dan khawatir terhadap apa saja yang dikeluarkan atau difatwakan seseorang sebelum menyelidiki terlebih dahulu kebenaran akan hadist atau berita tentang ketuhanan. Dari sekian masalah yang di khawatirkan, muncul kehati-hatian ulama untuk menjaga ke otentikan naskah atau ajaran yang datang dari setiap orang, sehingga setiap naskah di haruskan mempunyai sandaran atau sanad (asal berita tersebut) sampai kepada Rasulullah sebagai sumber berita dan kebenaran. Hal inilah yang akhirnya muncul istilah ijazah, bai'at dan bergesernya istilah sahabat atau pembawa berita menjadi guru atau maha guru dan murid. Padahal pada jaman Bukhari saja masih menggunakan istilah rawi pembawa berita / periwayat sebuah berita hadist (ajaran rasulullah).

Mengapa islam begitu enggan menggunakan istilah yang berbeda dengan agama-agama lain dalam hal ini, padahal kata islam sendiri yang berarti tunduk tidak menempatkan manusia sebagai sandaran kepercayaannya (kultus kesucian terhadap manusia) yang banyak dianut agama lain. Kata tunduk disini men-generalisir semua ummat tanpa pandang bulu ....apakah itu Rasulullah, sahabat, manusia biasa, budak belian, ... berkedudukan sama dihadapan Allah, ... yang akan membedakan adalah taqwanya .

Dalam suatu risalah 'Understanding Islam', sebuah agama yang hakiki, agama yang natural, dalam uraian pengertian islam secara makro kita baca sebagai berikut : "Setiap agama di dunia dinamakan atas nama pendirinya atas nama rakyat dimana agama itu dilahirkan. Misalnya, Kristen dinamakan dengan demikian karena ia mengambil namanya dari pendirinya Kristus, budhisme dari pendirinya Buddha, zoroasterianisme dari pendirinya Zoroaster, Yudaisme agama orang Yahudi dari pendirinya yang termasuk kaum Yuda dari negeri Yudea, dan lain sebagainya. Akan tetapi Islam, bolehlah merupakan suatu distinksi yang unik, yang tidak memiliki asosiasi dengan orang ataupun rakyat tertentu. Kata Islam tidaklah menegaskan hubungan apapun yang serupa itu, karena ia tidaklah dimiliki oleh sesuatu rakyat, orang ataupun negara tertentu. Tujuan dari agama ini adalah menciptakan dalam manusia suatu kwalitas atau sikap dari pada ISLAM. Islam adalah sebuah kata bahasa Arab, dan menunjukkan akan berserah diri serta ketaatan. Agama islam dinamakan demikian karena itu adalah berserah diri serta ketakwaan kepada Allah semata".

Demikian pengertian yang saya tangkap mengenai guru, ... di dalam islam tidak ditemukan guru dalam arti yang sebenarnya, ... yang ada adalah pembawa berita, periwayat, dll. Hal ini menghindari keterikatan kultus yang banyak dibangun masa setelah Rasulullah wafat, seperti yang saya sebutkan diatas karena pergolakan politik, ... karena takut tidak memiliki pengikut, ... karena takut tidak dihormati dan tidak mempunyai kedudukan dihadapan ummatnya. Padahal kalau kita fahami, arti islam menunjukkan keuniversalan dan kebebasan yang tidak serta merta pembawa beritalah yang paling baik dalam kedudukan beragama ..mungkin murid kita lebih baik keimanannya ketika ditimpa musibah dari pada gurunya. Hal ini menghindari arogansi kedudukan kyai ataupun guru yang seakan terbebas dari kesalahan dan kehilafan yang sering muncul, sedangkan sang murid tidak berani menegurnya karena takut kuwalat dsb...

Saya tidak berani mengaku guru dalam hal ini, karena saya tidak berani menjamin keimanan saya, ... saya tidak bisa menjamin hidayah untuk anda . mungkin yang saya bisa adalah bersifat bersama, ... meneliti bersama . belajar bersama . mengkaji bersama . dan menghadap bersama, . tidak ada kedudukan yang lebih atas dalam hal ini.

Di setiap pertemuan, sering saya ungkapkan bahwa, mungkin rekan yang baru datang mengikuti pengkajian di majelis ini, ... lebih baik dari pada saya saat ini . karena anda tidak tahu, ternyata saya telah berbangga diri pada malam ini karena merasa dihormati sebagai pembicara masalah hakikat !! Anda mungkin menganggap saya memiliki iman yang luar biasa hari ini, ... padahal anda tidak tahu tadi pagi saya telah kecewa terhadap Allah karena tidak mempunyai uang, tidak mensyukuri nikmat dll. Untuk itu anda datang ke majlis ini, adalah mendengarkan berita dari kebenaran Alqur'an dan As sunnah dan kita harus memasukinya bersama . bisa jadi anda lebih dahulu merasakan keimanan itu ketimbang saya, . demikian pula rekan-rekan yang senior.

Didalam patrap tidak ada senioritas..karena dzikrullah itu mengajarkan bagaimana bersandar kepada Allah, berserah kepada Allah ..dan masing-masing fihak bertanggung jawab atas dirinya sendiri dihadapan Allah..sebagaimana ketika shalat berjamaah. Untuk memulainya yang harus anda perhatikan adalah dalil-dalil yang di jadikan hujjah. Anda harus kritis terhadap apa yang saya sampaikan karena ditakutkan saya khilaf didalam berbicara atau menyampaikan masalah agama keluar dari nash yang shahih. Untuk itu.tidak layak anda mendapatkan ijazah ilmu dari saya, ... karena saya dan rekan-rekan jamaah dzikrullah berkedudukan sama di hadapan Allah.

Siapa yang mengajari rasa iman, . siapa yang memberikan rasa cinta, . rasa bahagia..rasa taqwa ..?? Bukankah saya tidak bisa memberikan hal itu kepada anda, ... termasuk masalah hidayah. Rasulullah pun tidak berhak memberikan hidayah kepada orang yang sangat di cintainya. Nabi Nuh tidak mampu memberikan hidayah kepada putranya, ... Nabi Luth tidak mampu memberikan hidayah kepada istrinya .innaka la tahdi man ahbabta .sesungguhnya kalian tidak akan mampu memberikan hidayah kepada orang yang kamu cintai sekalipun ...

Praktekkan patrap/ dzikrullah karena dasar diperintahkan oleh Allah, . bukan oleh Abu Sangkan. Mungkin saya hanya memberikan berita kebolehan dan larangan untuk kita lakukan, yang saya ambil dari Alqur'an dan As sunnah..

Dan saya ingin mendengarkan hasilnya bahwa anda nanti juga mengabarkan kebenaran Alquran dan As Sunnah dari pengalaman anda memasuki rasa iman secara transcendent .

Demikian mudah-mudahan anda merasakan seperti apa yang telah dirasakan oleh saudara-saudara kita yang terdahulu, ... berupa getaran iman dan taqwa, serta bimbingan menuju kehadirat Allah yang maha lembut ...

Salam
Abu Sangkan

 
Copyright © Yayasan Bukit Thursina 2002