
Sering
kali kita mendengar kata bergetar
digunakan untuk penyebutan
sesuatu yang sulit di bahasakan
secara verbal. Belum ada satu
kalimat yang tepat yang bisa
mewakili arti dan menunjukkan
keadaan yang dirasakan orang,
seperti getaran cinta, getaran
rasa, getaran emosi, getaran
gelombang elektromagnetik,
getaran suara, getaran wahyu
atau ilham .
Al Qur'an juga tidak secara
gamblang menggambarkan keadaan
Iman (ciri-ciri) yang sebenarnya,
disana hanya disebutkan wajilats
quluubuhum (bergetar hatinya,
QS. Al Anfaal:2 ), taq
syairru minhu juludulladzina
yakhsyauna rabbahum (
gemetar karenanya kulit/fisik
orang-orang yang merasa takut
kepada Tuhannya, QS. Az Zumar
:23).
Memang sulit bagi mufassir,
penyair, seniman musik, pelukis
atau filosof untuk mengungkapkan
apa yang mereka rasakan secara
transenden, sehingga mereka
hanya mampu merangkai kata,
bunyi, warna, sebagai ungkapan
kedalaman makna dan arti yang
tidak berasal dari apa yang
bisa digambarkan seperti naluri,
insting, inspirasi, ilham
atau wahyu !! Yang turun melalui
getaran penuh muatan makna
dan pengertian yang berasal
dari ilahi.
Sebelumnya saya akan mengajak
anda untuk memperhatikan firman
Allah surat Azzumar ayat 22-23,
sebagai kajian mengenai getaran
yang diakibatkan oleh proses
dzikir, selanjutnya juga akan
kita bahas secara universal
dan ilmiah baik segi fisiologi
maupun psikologi.
Maka
apakah orang-orang yang dibukakan
Allah hatinya untuk (menerima
) agama Islam lalu ia mendapat
cahaya dari Tuhannya (sama
dengan orang yang membatu
hatinya) ? maka kecelakaan
yang besarlah bagi mereka
yang telah membatu hatinya
untuk mengingat Allah. mereka
itu dalam kesesatan yang nyata
.
.gemetar karenanya kulit
orang-orang yang takut kepada
Tuhannya, kemudian menjadi
tenang kulit dan hati mereka
diwaktu menginat Allah (dzikrullah)
, itulah petunjuk Allah.
Penjelasan
pada ayat diatas diawali dengan
"terbukanya hati orang
yang menerima cahaya Islam
dari Tuhannya (pencerahan)',
kemudian bergetar ( terguncang)
fisik orang yang menerima
cahaya atau pencerahan dari
Tuhannya, lalu proses itu
berlanjut dengan adanya harmonisasi
antara fisik dan hati tatkala
mengingat Allah
.itulah
petunjuk Allah. Mungkin bisa
saya tegaskan disini keadaan
itu merupakan hal yang universal
dan alami, bukan klenik atau
khurafat .
Rasulullah pada saat pertama
kali menerima wahyu di goa
Hira mengalami guncangan tubuh
atau beliau menggigil yang
amat sangat, sehingga Siti
Khadjah menyelimutinya . padahal
udara di luar sangat panas.
Sedangkan Siti Aisyah ra berkata
: "Aku pernah melihat
saatnya turun wahyu kepada
Nabi pada suatu hari sangat
dingin, kemudian Aku lihat
dahi Nabi bercucuran keringat,
pada saat itu aku menyekanya".
Diriwayatkan oleh Ahmad dalam
Musnadnya dari Abdullah ibn
'Umar ra, "saya bertanya
kepada Nabi Saw. apakah engkau
merasa bahwa wahyu akan datang
?" menjawab Nabi : "Kadang-kadang
aku dengar suara gemerincing
lonceng yang sangat keras,
sesudah itu akupun terdiam
mendengar itu. Tiap-tiap kali
wahyu datang demikian aku
merasa jiwaku akan dicabut".
( Rasulullah merasakan keadaan
seperti ini yang paling berat
dirasakan )
Kisah yang diriwayatkan oleh
Al Bukhari dari Shafwaan ibn
Ya'la ibn Umayyah :
Ya'la
berkata : Sementara Nabi berada
di Ja'ranah, berteduh dibawah
sehelai kain beserta beberapa
shahabat, tiba-tiba datanglah
seorang Badawy berbaju jubah
yang berlumur dengan bau-bauan,
lalu bertanya ; "Ya Rasulullah,
bagaimana pendapat engkau
mengenai seorang yang berihram
untuk umrah dengan memakai
jubah yang berlumuran bau-bauan
?" maka Umar memberi
isyarat kepada Ya'la, mengajak
masuk ketempat Nabi berteduh,
Ya'la melihat Nabi telah merah
mukanya dan terus tertidur
serta mengeluarkan orokan
seperti orang epilepsy . Sesaat
kemudian Nabi sadar , lalu
Nabi berkata : "Mana
orang yang baru bertanya tentang
umrah". Sesudah orang
itu di cari dan datang, Nabi
berkata : "bau-bauan
itu hendaklah kamu basuhnya
tiga kali. Sedangkan jubah
itu haruslah kamu tanggalkan
dari badanmu. Sesudah itu
berbuatlah apa yang kamu buat
untuk haji".
Para
orientalis Barat telah mempergunakan
riwayat ini untuk menuduh
Nabi Saw. orang yang telah
kehilangan kesadarannya karena
terserang epilepsy . Padahal
nyata dari memperhatikan riwayat-riwayat
itu, bahwa Nabi sesudah mengalami
yang demikian itu, lalu memanggil
juru tulisnya untuk menuliskan
soal yang ditanyakan kepadanya
tadi.
(Kepustakaan : Sejarah dan
pengantar ilmu Alqur'an/ Tafsir
, M Hasbi Ash Shiddiqy , Bulan
Bintang, Jakarta 1954 )
Selanjutnya saya akan membahas
"getaran" sebagai
sesuatu yang alamiah bukan
sebagai hal yang dianggap
mistik kurafat atau bid'ah
oleh sebagian kalangan.
Le Shan dalam bukunya yang
terkenal How to Meditate,
menyebutkan bahwa meditasi
dan berfikir transendental
dapat menambah ketahanan kulit
terhadap aliran listrik hingga
400 persen. Ia juga menegaskan
bahwa keadaan jiwa pada saat
bermeditasi secara mendalam,
merupakan puncak ketenangan
yang dapat menolak segala
emosi dan keruwetan pikiran.
Diantara perubahan kejiwaan
yang betul-betul dirasakan
oleh orang yang mengikuti
latihan meditasi atau dzikir
adalah tercapai perasaan tenang,
sampai pada tingkatan pengetahuan
pribadi yang tinggi, dan pada
perasaan yang indah yang menggelorakan
hubungan individu yang intim,
penuh keoptimisan, dan perasaan
mampu untuk berkarya dan berfikir
jernih .
Saya berpendapat bahwa perasaan
yang luar biasa ini adalah
perasaan diatas alam materi
yang dapat dirasakan - bukanlah
hanya omong kosong atau sekedar
pengalaman pribadi seseorang.
Perasaan itu merupakan suatu
kebenaran yang dapat dibuktikan
dengan adanya kesamaan yang
universal dalam pengalaman
kehidupan rohani pada para
rohniawan dari ahli ibadah
diseluruh dunia. Mereka dapat
mencapai tangga-tangga pengetahuan
yang diperoleh melalui getaran-getaran
makna . Kesamaan pengalaman
universal tersebut memberi
bukti kebenaran pengalaman
mereka itu yang didalam Alqur'an
disebut sunnatullah ( ketetapan
Allah, hukum alam ).
Sebenarnya potensi ini sudah
disediakan oleh Allah didalam
fisik maupun rohani kita,
hanya saja sering dihambat
oleh kata-kata Bid'ah dan
khurafat, yang menyebabkan
orang Islam takut mendalami
tafakkur atau berdzikir dengan
baik dan meneliti dampak kejiwaan
seperti yang telah dilakukan
oleh peneliti-peneliti Barat
.
Secara jujur mereka meneliti
kejiwaan universal tanpa melihat
dari sisi agama yang dianutnya.
Mereka berfikir bersih dan
jujur dengan apa yang diketahuinya.
Dalam tulisan ini saya sengaja
memaparkan masalah tersebut
dalam upaya menerangkan pengaruh
pikiran, emosi, dan jiwa terhadap
kesehatan jasmani atau bertambahnya
daya listrik dalam tubuh terutama
pada otak serta pengaruh terhadap
meningkatnya zat-zat kimia
yang banyak memberikan pengaruh
..terhadap ketenangan, fenomena
fikiran, halusinasi, getaran
tubuh dll , semuanya berupa
kajian ilmiah yang tidak bisa
dikatakan klenik atau mistik
.
Mari kita buang jauh-jauh
pikiran yang membatasi kajian
universal terhadap fenomena
yang sering muncul dari mental
dan kejiwaan kita sendiri,
atau kita perhatikan proses
latihan yang dilakukan oleh
aliran tenaga dalam, prana,
taichi, olah rasa, subud,
meditasi, dan bagaimana pendapat
mereka tentang pengalaman
yang didapat.
Semua terjadi secara alami
dan fitrah yang dapat dirasakan
oleh setiap orang. Getaran
yang diperoleh secara alami
tidak bisa dikatakan berasal
dari jin atau syetan, dan
hanya orang yang sempit pikirannya
dalam memahami kejiwaan sehingga
berpendapat bahwa sesuatu
yang alamiah dikatakan bid'ah
atau khurafat.
Saya kurang sependapat dengan
orang yang mengatakan demikian,
karena peristiwa sensasi yang
memunculkan gerakan-gerakan
yang tidak teratur, disebabkan
terlalu banyaknya daya listrik
yang dihasilkan yang memenuhi
pusat otak dan tidak mampu
disalurkan dengan baik ke
seluruh jaringan syaraf, hampir
sama dengan peristiwa ledakan
listrik yang diperoleh penderita
epilepsi, yang mengakibatkan
terjadinya guncangan-guncangan
yang tidak beraturan.
Seperti yang telah dikatakan
oleh Le shan bahwa, bagi orang
yang melatih meditasi akan
menghasilkan ketahanan terhadap
getaran listrik hingga 400
persen dari orang normal.
Sehingga jika daya yang besar
ini belum tersalurkan dengan
baik maka akan menimbulkan
gerakan-gerakan sensasional
yang tidak beraturan., Akan
tetapi jika sensasi gerakan-gerakan
itu dibiarkan lepas, maka
dengan sendirinya gerakan
itu akan reda dan tubuh anda
akan semakin ringan serta
pikiran, hati dan gerakan
tubuh akan serasi. Hal ini
telah dilakukan bertahun-tahun
oleh kaum Tao dalam menyelaraskan
keseimbangan pikiran, jiwa
dan tubuh yang menghasilkan
gerakan harmoni yang gemulai
seperti gerak taichi yang
indah .
Gerakan tai-chi merupakan
gabungan antara olah jiwa
dan gerak atau meditasi gerak,
dimana seseorang yang sudah
mencapai keadaan ini, akan
merasakan penyatuan dengan
gerakan alam yang harmoni.
Mengapa
Timbul getaran dan gerakan
yang tidak beraturan ?
Untuk memudahkan
dalam memahami hal tersebut
saya akan kutip beberapa pendapat
yang bisa dipertanggung jawabkan
keabsahannya baik secara ilmiah
maupun penafsiran ulama yang
cukup kuat pada masa sekarang.
Pada
awalnya memang demikian, hampir
seluruh orang yang mampu megkonsentrasikan
pikirannya kepada satu objek
dengan baik mereka akan mengalami
dan merasakan getaran yang
menyelimuti tubuhnya. Anda
bisa membuktikan sendiri daya
energi dalam tubuh anda. orang-orang
yang melatih meditasi tai-chi
atau yoga, psikhotronika dengan
cara mengendorkan tubuhnya
kemudian dia merasakan energi
chi yang mengalir dalam tubuhnya.
Bertambah lama bertambah kuat
energi yang dihasilkan, akibatnya
terkadang akan mengguncangkan
tubuhnya dengan sangat keras
atau bahkan seperti orang
kesurupan dan epilepsy. Mengapa
demikian ?
Berikut
ini saya kutip pendapat J.B.S
Haldane, hasil penelitiannya
mengenai teori kuantum tentang
kesadaran, seorang ahli biologi.
Pada tahun 1950-an, fisikawan
David Bohm mengamati adanya
'analogi yang kuat antara
proses kuantum dan pengalaman
bathin dan pemikiran".
Sebagian teori modern mengarah
pada penelitian tentang kesatuan
atau koherensi kuantum (quantum
unity atau quantum coherence)
di suatu tempat di dalam struktur-struktur
sel saraf di air di dalam
sel saraf, di microtubule
sel saraf, atau dalam aktivitas
tertentu di dalam membran
saraf, akan tetapi semua teori
ini berfokus pada aktivitas
mikro di dalam sel saraf tunggal.
Baik problem ikatan (binding
problem) maupun penelitian
MEG (Magneto-Encephalography
) tentang osilasi 40 Hz menunjukkan
bahwa kohenrensi diantara
sel-sel saraf yang berbeda.
Jadi, persoalannya sekarang
adalah : apakah kohenrensi
kuantum berskala besar juga
ditemukan di seluruh bagian
otak ??
Mari kita mulai dari sini
; apakah yang membuat syaraf
tunggal itu berosilasi ? Diketahui
bahwa aktivitas listrik yang
berirama di dalam membran
sel saraf itulah yang menjadi
penyebabnya. Seluruh membran
sel saraf dihubungkan dengan
terowongan yang jika dirangsang
secara kimiawi atau elektris
memungkinkan ion (atom bermuatan
listrik) melalui terowongan
tersebut. Terowongan ini biasa
dikenal sebagai terowongan
ion. Oleh karena bermuatan
listrik, ion-ion itu menghasilkan
medan listrik ketika mereka
bergerak disepanjang terowongan.
Aktivitas ini menimbulkan
osilasi elektris di dalam
sel saraf itu sendiri. Medan
listrik di seluruh bagian
otak yang mengandung osilasi
40 Hz itu merupakan fenomena
kolektif dari osilasi sel
saraf tunggal. Pertanyaannya
kemudian: apakah medan listrik
di seluruh bagian otak itu
merupakan medan listrik kuantum,
yang didalamnya osilasi 40
Hz merupakan osilasi kuantam
yang terrpadu ?
Michael Green dari City
University of New York baru-baru
ini mengajukan hipotesis bahwa
aktivitas didalam ion sel
syaraf itu dipicu oleh fenomena
terowongan kuantum (quantum
tunneling phenomena) Terowongan
kuantum adalah suatu proses
ketika suatu partikel mampu
menerobos energi penghalang
(barrier energy) dengan mengubah
dirinya menjadi gelombang
sebelum akhirnya menjadi partikel
kembali di sisi seberangnya.
Penjelasan ini sangat sesuai
dengan pengamatan, jadi besar
kemungkinan bahwa aktivitas
kuantum di dalam terowongan
ion tunggal itu memang benar-benar
terjadi .(SQ, Danah Zohar
dan Ian Marshall terj. Jalaluddin
Rahmat, hal.74 )
Selanjutnya
saya akan menterjemahkan secara
bebas kitab tafsir karangan
Prof. Mohammad Ali Ash Shobuni
mengenai getaran sebagai proses
datangnya petunjuk yang dimaksud
dalam surat Az Zumar : 22-23
Maka
apakah orang-orang yang dibukakan
Allah hatinya untuk (menerima)
agama Islam lalu ia mendapat
cahaya dari Tuhannya (sama
dengan orang yang membatu
hatinya)? Maka kecelakaan
yang besarlah bagi mereka
yang telah membatu hatinya
untuk mengingat Allah. mereka
itu dalam kesesatan yang nyata.
Allah
telah menurunkan perkataan
yang paling baik (yaitu) Al
Qur'an yang serupa (mutu ayat-ayatnya)
lagi berulang-ulang, gemetar
karenanya kulit orang-orang
yang takut kepada Tuhannya,
kemudian menjadi tenang kulit
dan hati mereka di waktu mengingat
Allah, itulah petunjuk Allah,
dengan kitab itu Dia menunjuki
siapa yang dikehendaki-Nya,
dan barang siapa yang disesatkan
Allah, maka tidak ada seorangpun
pemberi petunjuk.
Ayat
diatas memberikan ulasan bagaimana
Allah membuka hati orang yang
berdzikir, lalu memberikan
Nur Ilahy sebagai petunjuk,
kemudian dilukiskan orang
yang tidak mendapatkan cahaya
(hidayah) dari Tuhannya, sehingga
mereka menemui jalan kesesatan
disebabkan tidak mau berdzikir
kepada Allah.
Ali
Ash Shobuni, menafsirkan ayat
22 tersebut, yaitu Allah memberikan
karunia keluasan hati (pencerahan)
untuk menerima Islam (ajaran-Nya).
Dan memberikan tuntunan terhadap
hatinya dengan cahaya-Nya
sehingga muncul rasa teguh
atau mantap dalam hatinya.
Yaitu rasa yang muncul dari
bashirah dan keyakinan untuk
menerima perintah dari Tuhan-Nya.
Kemudian beliau menjelaskan
bahwa kecelakaan yang besarlah
bagi orang yang tidak mau
berdzikir atau tidak khusyu'
ketika berdzikir kepada Allah
dan mereka dalam kesesatan
yang nyata.
Ayat
berikutnya Allah menjelaskan
bagaimana proses petunjuk
itu diturunkan kepada orang
yang berdzikir. Yaitu tampak
bagi orang mukmin itu tanda-tanda
keimanannya rasa ketakutan
yang dalam tatkala dibacakan
ayat-ayat Allah sehingga ia
bergetar tubuhnya, disebabkan
kedahsyatan yang hebat akan
kalam Yang Maha Rahman. Kemudian
menjadi lunak, tenang ,kulit
(fisik) dan hati mereka tatkala
mengingat Allah, yaitu, tathmainnu
(tenang) dan taskun (diam/hening)
hati dan fisiknya (hati dan
fisiknya sudah menjadi satu)
tatkala mengingat Allah .
Bahkan
lebih dalam lagi ditafsirkan
oleh para Arifin (Ahli Ma'rifat),
Apabila mereka melihat Alam
Keagungan Allah maka mereka
pingsan (thasyu). Dan apabila
mereka melihat atsar dari
keindahan alam maka mereka
menjadi hidup hatinya ('Asyu).
Dan berkata Ibnu Katsir :
Hal ini merupakan bukti adanya
kekuatan dari kalam Yang Maha
Perkasa.
Demikian
penafsiran dari para Ulama
besar yang menyebutkan bahwa
proses turunnya hidayah kepada
orang-orang mukmin akan mempengaruhi
fisik yang masih belum
sinkron dengan hati yang tercerahkan,
akan tetapi pada ayat tersebut
terdapat kata tsumma yang
artinya "kemudian",
menunjukkan bahwa getaran
terhadap fisik itu akan berubah
menjadi lunak, hening bahkan
hati dan fisik tidak lagi
bersimpangan tatkala berdzikir
kepada Allah, hal ini bisa
dirasakan apabila dijalankan
dengan benar. (Diterjemahkan
secara bebas oleh Abu Sangkan
dari kitab Tafsir : Shafwatut
Tafaasir, karangan Prof. Mohammad
Ali Ash Shobuni, Beirut)
|