![]() |
![]() |
||||
|
Aturan
Agama Sebagai Beban Jiwa
|
||
|
Pada
kesempatan yang baik ini saya akan
mengajak saudara sekalian untuk menjenguk
jiwa kita yang menderita akibat beban
yang terlalu lama di tanggungnya.
Rasa lelah itu mengakibatkan ruhani
menjadi kering dan hampir saja sakit
jiwa, karena tidak dapat menghindari
eksekusi berupa ancaman-ancaman dosa
dan beban tuntutan melaksanakan kebaikan-kebaikan
serta meninggalkan larangan aturan
agama yang sering disampaikan dalam
setiap pertemuan pengajian.
Atau beberapa kalimat lain yang senada dengan itu, penyembah-penyembah berhala itu sangat mencintai berhalanya, seperti firman Allah:
Selanjutnya Allah menjelaskan bahwa mereka itu mengikuti jiwanya (nafsu) yang cenderung untuk berbuat sesat tanpa pimpinan Allah.
Kita
disadarkan oleh ayat ini, bahwa orang-orang
yang sesat dalam melakukan suatu perbuatan
kejahatan (kesesatan) sebenarnya hanyalah
mengikuti potensi yang muncul dalam
jiwanya (nafs), yaitu rasa mencintai
dan dimesrakan/dimanjakan dengan perbuatan
tersebut, sehingga jiwa tidak merasa
terbebani oleh karenanya. Maka jangan
heran jika kita sering melihat orang
yang berbuat kesesatan dengan sangat
mudah melakukannya dan tampak 'menikmati'
nya. Bandingkan dengan orang yang
melakukan perbuatan kebaikan (ketakwaan),
tampak sekali beban di raut mukanya
tidak merasa nyaman didalam melakukan
peribadatan seperti shalat, zakat,
berdzikir, haji, karena semuanya dilakukan
oleh dorongan dari luar dirinya bukan
yang muncul dari potensi jiwanya ~
yang akibatnya akan menjadi jenuh
dan depresi. Hal inilah yang dikritik
oleh Allah bagi peshalat, sehingga
mereka hanya mendapatkan rasa capek
dan penat, atau orang yang berpuasa
hanya mendapat rasa haus dan lapar
~ karena perbuatan yang dilakukan
bukan berasal dari potensi jiwa yang
baik.
Potensi jiwa yang baik dan potensi jiwa yang jahat dalam Alqur'an sering diungkapkan dalam bentuk berita atau menunjukkan keadaan masing-masing ~ bukan menggunakan kata perintah (amar) atau larangan ( nahyi). Hal ini menunjukkan bahwa perbuatan tadi tidak bisa dilakukan tanpa ada perasaan yang mendorong untuk berbuat. Keadaan ini yang dikatakan sebagai hal (kenyataan) yang muncul dalam jiwa, maka manusia hanya mengikuti kata jiwa tadi ~ seperti peristiwa yang dialami oleh nabi Yusuf as. Wama ubarriu nafsi inna nafsa la ammaratun bis su'....dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan) , karena sesungguhnya nafsu (jiwa) itu selalu menyuruh kepada kejahatan ....(QS. Yusuf:53). Dan nafs (jiwa) yang jahat tadi merupakan potensi yang mengalir tanpa melalui proses berfikir ~ kita tinggal mengikuti alur rasa jahat tadi tanpa beban, kecuali jiwa yang telah di rahmati oleh Allah yang memiliki potensi kebaikan ~ maka rasa kebaikan itu akan muncul begitu saja, terharu tatkala disebut nama Allah, rasa kasih sayang yang tinggi menyelimuti hati, rendah hati,selalu cenderung berbakti kepada Allah serta merasakan kenikmatan dan kekhusyu'an didalam shalat, maupun beribadah lainya. Keadaan ini tidak bisa dipaksakan, sebab rasa tadi muncul dari fitrah jiwa yang dirahmati oleh Allah.
Fitrah
manusia memiliki potensi keagamaan
yang lurus, yang selaras dengan keinginan
Allah, keinginan itu diaktualisasikan
kedalam kitab suci, sehingga ketika
orang didalam jiwanya muncul potensi
ingin memuja Tuhannya, maka Allah
telah membuat aturan-aturan didalam
pemujaan ~ seperti shalat, dzikir,dan
beramal shaleh lainnya. Seluruh aturan
itu bersifat fitrah dan disepakati
oleh potensi agama yang ada dalam
jiwanya. keadaan jiwa orang kafirpun
memiliki potensi kejiwaan untuk memuja
Tuhan, akan tetapi aturan yang mereka
pilih didalam memuja Tuhan menemukan
cara yang ia dapati oleh doktrin agama
yang mereka anut, namun rasa ingin
memuja itu sudah ada dan mengalir
tanpa melalui proses berfikir. Atau
potensi rasa cinta seseorang yang
muncul di dalam dirinya terhadap lawan
jenisnya, ~ potensi ini bersifat fitrah
dari Tuhan. Namun jika orang tersebut
tidak mengetahui bagaimana harus mengarahkan
percintaannya, maka orang tersebut
bercinta tanpa aturan atau disebut
berzina.
Pada ayat lain Allah mengungkapkan orang-orang yang memiliki potensi jahat yang muncul dalam jiwa. seperti pada surat berikut ini :
Mari
kita perhatikan bentuk ungkapan ayat-ayat
diatas, baik kepada orang yang memilki
potensi baik (taqwa) maupun yang berpotensi
sesat (fakhsya) ~ keduanya diungkapkan
dalam bentuk berita atau hal, bukan
bentuk perintah atau bentuk larangan
~ karena keduanya keluar dari potensi
jiwa secara fitrah. Seperti dikatakan
bahwa ciri-ciri orang beriman apabila
disebut Nama Allah bergetar hatinya,
menyungkur dan menangis, atau Al Qur'an
hanya mengatakan sungguh beruntung
orang beriman yang apabila shalat
selalu khusyu', ~ hal ini tidak bisa
kita mencoba memaksa menangis, bergetar
hati, khusyu' dll. Demikian pula ungkapan
bagi orang yang memiliki potensi jiwa
jahat. Al qur'an menjelaskan kenyataan
jiwa kepada kita sebagai pemandu atau
barometer keadaan jiwa kita, yaitu
kenyataan jiwa yang beriman dan kenyataan
jiwa yang tertutup hatinya, sehingga
Alqur'an disebut sebagai furqan (pembeda)
atau hudan (petunjuk bagi orang yang
telah mendapatkan potensi baik (taqwa)
~ dzalikal kitabu laa raiba fihi
hudan lil muttaqiin.
Ayat ini secara tegas membandingkan orang yang mendapatkan pencerahan dari Tuhannya melalui cahaya-NYa, yang akan membimbing kepada jalan ketakwaan, yaitu dengan selalu ingat kepada Allah (dzikrullah). Dan selanjutnya dikatakan bahwa orang yang mendapatkan potensi kejahatan adalah orang yang hatinya telah membatu, tidak mau mengingat kepada Allah ~ dan orang tersebut termasuk tergolong sesat. Selanjutnya mari kita buka surat berikut ini :
Di dalam Mu'jam al Fadzil Qur'anil Karim yang diterbitkan oleh Majma'ul Al Arabiyyah, kata ILHAM ditafsirkan dengan, disusupkan kedalam hati perasaan yang sensitif yang dapat dipergunakan untuk membedakan antara kesesatan dan petunjuk. Di dalam kamus Al Muhith disebutkan Al Hamahu Khaira (Allah mengilhamkan kepadanya kebaikan), yakni Allah mengajarkan kepadanya. Ibnu Atsir dalam An nihayah mengungkapkan sebuah hadist yang di riwayatkan oleh Tirmidzi, Thabari, Baihaki dari Ibnu Abbas (hadist gharib)
Kemudian
Ibnu Atsir berkata: Ilham adalah Allah
menyusupkan kedalam jiwa suatu perkara
yang membangkitkan keinginannya untuk
melakukan suatu perbuatan atau meninggalkannya,
dan merupakan salah satu jenis Wahyu
yang Allah istimewakan dengannya siapa
saja yang dikehendaki-Nya diantara
hamba-hamba-Nya.
Jika
kita simpulkan kisah Nabi Yusuf di
atas, sejak mulai beliau mengatakan
bahwa dirinya tidak mempercayai nafsunya
karena nafsu itu selalu saja mengajak
kepada hal yang tidak baik (innan
nafsa la ammaratun bissu') kecuali
nafsu yang telah mendapatkan cahaya
(burhan/ pencerahan) dari Tuhannya.
Dengan cahaya Ilahy itulah Nabi Yusuf
dibimbing dan selamat dari perangkap
gejolak Nafsunya yang buruk. Hal ini
dikarenakan Nabi Yusuf telah menyerahkan
dirinya kepada Allah atas kekuatan
Nafsunya yang jahat, dengan mengatakan:
"Aku Berlindung kepada Allah."
Sikap menyerah kepada Allah inilah
yang menjadi perhatian kita, agar
kita bisa merasakan bagaimana Allah
mencabut rasa jahat dalam diri kita.
~ berganti menjadi iman yang keluar
dari potensi jiwa yang mendapat rahmat
dari Allah. Hal ini diperkuat dengan
kata "mukhlasin" pada akhir
ayat, sebagai obyek (maf'ul) yang
diberi keikhlasan, artinya keikhlasan
Yusuf itu muncul dari ilham yang mengalir
dari jiwa yang dirahmati. Dan menunjukkan
bahwa Yusuf bukanlah orang yang mampu
mengendalikan dirinya dengan kekuatannya,
akan tetapi Allahlah yang menuntun
hati Yusuf sehingga dirinya tidak
terjerumus kepada kejahatan.
Ilham
itu masuk kedalam jiwa orang itu,
dan orang tersebut tinggal mengikuti
gerakan jiwanya melakukan perbuatan
yang baik tanpa beban. Dan Alqur'an
akan mengabarkan kebenaran yang dirasakan
oleh orang yang mendapatkan pengalaman
beriman tersebut. begitu pula jika
ilham kejahatan itu muncul, Alqur'an
memaparkan secara gamblang mengung-kapkan
ciri-cirinya.
Tatkala
manusia tidak lagi membutuhkan Allah
serta tidak menempatkan Allah sebagai
Tuhan dalam jiwanya, maka Syetan itulah
yang menjadi penasehatnya serta memerintahkan
dan menuntun kepada kejahatan. Akan
tetapi ilham itu tetap berasal dari
Allah, hanya saja syetan itulah yang
menyelewengkan ilmu itu dari kebenaran.
Misalnya ketika kita menjadi seorang
ilmuwan ahli nuklir ~ ilmu yang didapat
dari Allah itu akan sangat membahayakan,
bilamana hati manusia yang telah mendapatkan
bisikan syetan itu dimanfaatkan untuk
menghancurkan alam dan manusia. Bahkan
syetanpun memohon kekuatan kepada
Allah seperti tercantum dalam Firman
Allah: Iblis menjawab: Demi Kekuasaan
Engkau, Aku akan menyesatkan mereka
semua nya, kecuali hamba-hamba-Mu
yang muklish diantara mereka (
QS. Shaad:82-83 )
Setelah
kita mengetahui bagaimana Allah murka
kepada Iblis, yaitu karena iblis tidak
menuruti kemauan Allah, yaitu berserah
kepada kehendak-Nya yang suci. Iblis
mempertahankan kemauan dirinya karena
merasa paling baik dari yang lain.
Berdzikir dilakukan dengan rendah hati dan rasa takut, serta tidak mengeraskan suara : Firman Allah :
Selanjutnya
kita akan praktekkan bagaimana berdzikir
secara praktis, sehingga kita bisa
merasakan bagaimana Allah menuntun
kita dalam memasuki hakikat Islam
yang sebenarnya, dan Allah akan mengangkat
potensi jiwa yang fitrah yang selama
ini tenggelam. |
||
|
Copyright
© Yayasan Bukit Thursina 2002
|
|||