![]() |
![]() |
||||
|
Ontologi
Ilmu
|
||
|
Saya akan membahas alasan-alasan saya mengenai ilmu tafsir dan cara memahami ayat-ayat Alqur'an di dalam mengambil keterangan sebagai sandaran ilmu/referensi. Bantahan saya atas tuduhan mengajarkan ilmu klenik dan mistik perdukunan, merupakan interaksi saya terhadap jamaah yang mengalami peristiwa yang mereka rasakan dan lihat, baik dalam dirinya maupun yang terjadi terhadap orang lain. Yakni, peristiwa yang sedang terjadi namun berupa sesuatu yang belum terjamah oleh kaum ilmuwan, seperti kejadian sihir, mayat hilang, badan menjadi lebih dari satu, rohani menembus alam-alam ghaib, serta berbagai fenomena psikokinetik, hipnotisme, telepati, magentisme, dan sensasi keimanan seperti kekhusyu'an, dll. Walaupun kejadian-kejadian dan fenomena-fenomena tersebut belum terjamah oleh ilmu pengetahuan modern, pada kenyataannya semua itu ada dalam kehidupan masyarakat dunia Timur maupun Barat, dan diakui keberadaanya oleh agama - termasuk agama-agama di luar Islam. Di kalangan jamaah dzikrullah saya sekedar mediator yang menanggapi tentang permasalahan yang mereka hadapi, untuk kemudian (mencoba) memberikan masukan data-data mengenai hal itu kepada mereka. Jawaban dan tanggapan yang saya berikan senantiasa mendasarkan kepada pengalaman, analisa dan data konkret yang ada pada naskah-naskah spiritual.- seperti naskah Ihya (Al Ghazali), Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim (tentang Roh), yang telah diakui oleh (hampir) seluruh kalangan ulama sampai sekarang. Baiklah, saya akan menarik ke belakangan dulu, dengan membicarakan terlebih dahulu apa yang menjadi dasar orang berfikir sehingga menghasilkah sebuah ilmu pengetahuan. Hal ini yang akan kita pakai sebagai acuan dalam berfikir dan memperbandingkan cara pemikiran umum dan agama. Karena berfikir melalui otak berbeda dengan berfikir melalui rasa atau intuisi (hati/jiwa), yang di kalangan scientic tidak dimasukkan sebagai sumber analisa. Padahal dikatakan oleh Alquran, "memang hati mereka telah kami tutup hingga mereka tidak dapat memahaminya " (QS Al Kahfi: 57). Menurut saya, jelas sekali ayat ini mengatakan bahwa yang difahamkan itu hatinya, bukan pikirannya (otaknya ). Marilah
kita mulai dengan membahas mengenai "ilmu
pengetahuan" (selanjutnya saya sebut
ilmu saja). Apakah yang sebenarnya ingin diketahui
oleh ilmu? Atau dengan perkataan lain, apakah
yang menjadi bidang telaah ilmu? Bidang lain,
seperti agama umpamanya, memasukkan ke dalam
ruang lingkup pengkajiannya hal-hal yang berada
di luar jangkauan pengalaman manusia: apa
yang terjadi sesudah manusia meninggal dunia.
Padahal, sampai sejauh ini tak pernah ada
seorang pun yang pulang kembali dari lubang
kubur untuk menceritakan pengalamannya. Artinya,
"pengalaman Sementara
itu, sesuatu yang terjangkau oleh fitrah pengalaman
manusia disebut empiris, yakni fakta yang
dapat dialami langsung oleh manusia dengan Obyek
penelaahan ilmu mencakup seluruh aspek kehidupan
yang dapat diuji oleh panca indera manusia.
Dalam batas-batas tersebut maka ilmu mempelajari
obyek-obyek empiris saja, seperti batu-batuan,
bintang, tumbuh-tumbuhan, hewan atau manusia
itu sendiri. Ilmu mempelajari berbagai gejala
dan peristiwa yang menurut anggapannya mempunyai
manfaat bagi kehidupan manusia. Berdasarkan
obyek yang ditelaahnya maka ilmu dapat Sebagai
sesama muslim, mari kita kaitkan konteks dasar
sebuah ilmu dengan sumber dari segala sumber
rujukan kaum muslimin, yakni, Alquran. Pada
galibnya, dunia empirisme hanyalah sebagian
kecil dari pengetahuan Alquran yang sudah
dipelajari oleh sebagian manusia. Penyebabnya
karena memang panca indera dan peralatan pembantunya
hanya mampu mengamati barang yang empiris
(nyata, dhahir), dan tidak mampu menangkap
apa itu Pernyataan
atau tuduhan seperti ini bisa saya maklumi
karena alat-alat yang difungsikan oleh ilmuwan
seperti itu kurang satu, yaitu, rohani, emosi
jiwa. Padahal, emosi jiwa (ternyata) lebih
cerdas daripada pikiran (otak) - sekarang
mulai mendapat pengakuan, seiring dengan munculnya
istilah "kecerdasan jiwa". Kenapa?
Sebab pikiran sudah dibelenggu oleh batasan
aturan berfikir, tidak semerdeka orang yang
menggunakan alat rohani yang tinggi. Contoh
"belenggu pikiran" adalah adanya
dimensi ruang dan waktu. Tentu otak, yang
sudah dibelenggu oleh pola seperti itu, sulit
menerima Contoh
yang lain adalah Umar bin Khattab, orang yang
memiliki ilmu mukasyafah, yang mampu melihat
kejadian akan datang, sehingga oleh Rasululah
SAW disebut Al Muhaddatsun. "Di antara
umat-umat sebelum kalian telah ada muhaddatsun.
Kalaupun ada seorang di antara umatku yang
seperti itu maka dialah Umar bin Khattab.
(Muttafaqun alaihi/shahih). Bagaimanakah penjelasannya
secara rasional? Tentu para rasionalis akan
sulit Pada
hemat saya, para ilmuwan yang seharusnya lebih
berfikir universal tidak selayaknya menganggap
sebuah peristiwa ataupun fenomena kejiwaan
itu adalah klenik bahkan mistik. Akan lebih
bijaksana kalau mereka menyatakan sebagai
sesuatu yang "belum bisa dibuktikan secara
ilmiah" ketimbang langsung menuduh sebagai
klenik dan mistik. Bukankah dahulu ledakan
petir dianggap orang sebagai sebuah peristiwa
sakral yang dikaitkan dengan mitos dewa-dewa?
Lalu kenapa setelah Thomas Alfa Edison mengungkapkannya
secara rasional manusia malah menjadikannya
sebagai sesuatu yang Mari kita bahas mengenai bola-bola kaca "bersinar" yang dipasang di rumah-rumah tersebut. Bola-bola kaca itu dihubungkan oleh kawat-kawat yang disembunyikan, sehingga orang tak mengetahui bahwa bola-bola kaca itu telah membentuk rangkaian listrik yang kemudian dihubungkan dengan satu tombol listrik. Kalau Edison tidak dapat menjelaskan cara bekerjanya rangkaian listrik yang membuat bola-bola kaca itu bercahaya, bisa dipastikan dia dianggap sebagai tukang sihir. Tetapi karena dia dapat menjelaskan cara kerja rangkaian listrik tersebut melalui penjelasan yang dapat dimengerti oleh akal sehat - kendati bentuk elektronen itu tidak tampak mata (ghaib) -maka status dia bukan sebagai tukang sihir melainkan seorang ilmuwan yang dengan usaha akalnya dapat menemukan cara lampu listrik menyala. "Hanya" karena yang tadinya dianggap klenik dan ajaib itu ternyata sebuah peristiwa loncatan listrik yang bisa dijelaskan secara rasional, kini semua itu tak lagi dianggap ghaib. Mengapa Anda menutup kemungkinan-kemungkinan bahwa sesuatu yang (sekarang masih) dianggap ghaib ternyata sesuatu yang nyata? Bukankah di dalam Alquran begitu banyak rahasia-rahasia ilmu itu yang belum terungkap? Fenomena Jin Ifrid membawa singgasana Ratu Bilqis dalam sekejap dan hamba Allah yang alim melebihi kecepatan Jin tersebut dalam hal ini (QS Al Ankabut: 39-40). Bukankah rahasia Mi'raj juga merupakan renungan kita semua? Kalau dasar ontology ilmu yang Anda gunakan hanya menggunakan lima alat (panca indera) saja untuk meneliti, bagaimana Anda akan memahami yang lebih jauh dari sekedar pengetahuan bersifat fisik/kasat mata? Mengapa hal itu tidak Anda jadikan sebagai sebuah inspirasi untuk meneliti seperti apa yang dilakukan Sigmund Freud (tentang jiwa), Thomas Alfa Edison, Ibnu Sina (kedokteran), Al Farabi, dan seterusnya?. Kalau Anda sudah keburu sinis terhadap fenomena atau peristiwa yang terjadi, bagaimana Anda akan bisa menjadi ilmuwan yang sejati? Sebagai seorang mahasiswa S3 di bidang science engineering saya anjurkan Anda memiliki watak universal, mulai membuka cakrawala berpikir, dan jangan membelenggu pikiran Anda dengan batasan-batasan yang dibuat sendiri. Seorang peneliti mestinya bukanlah orang yang takut terhadap kejadian atau fenomena yang terjadi pada alam walaupun itu sambaran petir sebesar rumah dan suaranya mengguntur bagaikan suara raksasa. Justru jiwa universal akan tergugah untuk mengamati apa sebenarnya yang terjadi dan dari mana asal kejadian itu. Coba tempatkan diri Anda pada ribuan tahun yang lalu, seolah-olah Anda hidup di zaman Razulullah SAW. Apa komentar Anda jika ketika itu Anda melihat sebuah robot yang digerakkan secara elektronis melalui remote control (sesuatu yang saat ini, dengan S3 science engineering Anda, bisa Anda buat). Mungkinkah Anda langsung mengatakan bahwa itu hanya peristiwa listrik yang dipadu dengan peristiwa mekanik, digerakkan oleh motor, dan seterusnya? Tidakkah Anda akan terbengong-bengong, takjub, dan menyatakannya sebagai sihir, klenik, mistik, digerakkan oleh jin, dan sebagainya? Lalu kenapa sekarang robot tersebut sebagai sesuatu yang biasa, tidak aneh, dan dapat dijelaskan secara ilmiah? Itulah perkembangan berpikir, itulah sebuah bukti relativitas kesimpulan dalam sebuah ilmu pengetahuan (akan saya jelaskan di bawah). Islam sendiri telah mengajarkan filsafat ilmu yang menghendaki agar umatnya menjadi peneliti (intidzar) terhadap berbagai fenomena alam maupun fenomena yang dikandung dalam dirinya (manusia). Hal itu terungkap dalam firman Allah: "Katakanlah (hai Muhammad) perhatikanlah dengan intidzar apa-apa yang ada di langit dan di bumi." (QS Yunus: 101). Lalu dilanjutkan dalam QS Adz Dzariyaat 21: "dan (juga) pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tiada memperhatikan?" Ciri
khas nyata dari ilmu pengetahuan yang tidak
dapat diingkari - meskipun oleh para ilmuwan
- adalah bahwa ia tidak mengenal kata "kekal".
Apa yang dianggap salah di masa silam misalnya,
dapat diakui kebenarnnya di abad modern. Pandangan
terhadap persoalan-persoalan ilmiah silih
berganti, bukan saja dalam lapangan pembahasan
satu ilmu saja, tetapi terutama juga dalam
teori-teori setiap cabang ilmu pengetahuan.
Dahulu, misalnya, segala sesuatu diterangkan
dalam konsep material sampai-sampai manusia
hendak dikategori-kan dalam konsep tersebut.
Sekarang kita dapati psikologi yang membahas
mengenai jiwa, budi dan semangat, telah mengambil
tempat tersendiri dan mempunyai peranan yang
sangat penting dalam kehidupan manusia. Dahulu
persoalan moral tak mendapat perhatian ilmuwan,
tetapi kini penggunaan senjata-senjata nuklir,
misalnya tidak dapat Teori-teori
ilmiah bermunculan juga silih-berganti. Yang
dahulu dianggap pasti, bisa jadi sekarang
ini hanya dinilai sebagai ikhtisar dari pukul
rata Karenanya tak heran kalau Imam Al Ghazali pada suatu masa hidupnya tidak mempercayai indera. Beliau menulis dalam kitabnya Al Munqidz min Al Dhalal:
Segala
undang-undang ilmiah yang diketahui hanya
menyatakan saling bergantinya psychological
state (keadaan-keadaan jiwa) yang ditentukan
pada diri kita oleh sebab-sebab tertentu.
Ini menunjukkan bahwa segala undang-undang
ilmiah pada hakikatnya relatif dan subyektif.
Dari sini jelas bahwa ilmu pengetahuan hanya
melihat dan menilik, bukan menetapkan. Ia
melukiskan fakta-fakta, objek-objek dan fenomena-fenomena
yang dilihat dengan mata seorang ilmuwan yang
mempunyai sifat pelupa, keliru, dan ataupun
tidak mengetahui. Karenanya jelas pulalah
bahwa apa yang dikatakan orang sebagai sesuatu
yang benar (kebenaran ilmiah) sebenarnya hanya
merupakan suatu hal yang relatif dan mengandung
arti yang sangat terbatas sehingga secara
otomatis tafsir atau ta'wilnya akan berubah
menurut perkembangan ilmu pengetahuan. Akan
tetapi lafadz-lafadz Alqu'an tetap Setiap muslim termasuk saya, dapat mengeluarkan pendapatnya mengenai ayat-ayat Alqur'an, dengan memenuhi syarat yang dibutuhkan. Sebagai muslim saya memahami Alqur'an, karena ayat-ayatnya tidak diturunkan hanya untuk orang-orang Arab dan di zaman Rasulullah SAW dahulu saja, juga bukan dikhususkan untuk mereka yang hidup di abad ini. Mereka semua diajak berdialog oleh Alqur'an, diperintahkan untuk memikirkan isi Alqur'an sesuai dengan akal pikiran mereka. Akan tetapi cara penggunaannya berbeda antara seseorang dengan lainnya yang disebabkan oleh perbedaan mereka sendiri baik dari sisi latar belakang pendidikan, pelajaran, kebudayaan, maupun pengalaman-pengalaman yang dialami selama hidupnya. Tetapi berfikir secara kontemporer tidak berarti menafsirkan Alqur'an sesuai dengan teori-teori ilmiah atau penemuan-penemuan baru. Kita dapat menggunakan pendapat para ulama, cendekiawan, hasil percobaan dan pengalaman para ilmuwan, mengasah otak dalam membantu mengadakan ta'ammul dan tadabbur dalam membantu memahami arti ayat-ayat Alqu'an tanpa mempercayai setiap hipotesis atau pandangannya. Setiap ayat bisa dipahami berbeda pada setiap zaman dan perorangan, karena latar belakang pengalaman dan ilmu serta budaya. Seperti kata turab pada surat Al Hajj: 5, arti lafadznya adalah debu, bagi umat zaman itu (zaman Rasulullah SAW) debu adalah debu seperti yang kita lihat sekarang di jalanan itu. Akan tetapi makna itu berubah menjadi lain, manakala manusia mulai mengenal data ilmu pengetahu-an lebih dari sebelumnya: ternyata debu yang pada masa itu itu hanyalah bentuk sesuatu benda bersifat seperti debu (bubuk) bagi pikiran orang sekarang debu itu maksudnya adalah zat renik. Demikian juga dengan firman Allah, "Dia menciptakan manusia dari tanah liat yang kering seperti tembikar" (QS Ar Rahman:14). Kalau melihat arti sebenarnya bagi orang dahulu bisa jadi manusia itu benar-benar terbuat dari tembikar seperti patung tembikar dari Pleret, kemudian di beri ruh. Itupun tidak disalahkan karena memang pengetahuan masa itu sampai di situ, tetapi tidak mengubah lafadz Alqur'an. Biarkan lafadz itu bercerita kepada siapa saja yang membacanya dan pengertiannya tergantung ilham itu turun melalui jiwanya. Ada pula lafadz: "Manusia diciptakan dari air yang memancar." Air ya air, benda yang berbentuk cair, bahwa itu disebut "air yang memancar", pada zaman itu mereka tetap hanya membayangkan sebagai air. Bandingkan dengan masa kita sekarang, di mana pengertian "air yang memancar" langsung mengarahkan kita kepada bayangan mengenai air mani lengkap dengan spermatozoanya. Juga pada arti zarrah - maksudnya adalah benda yang sangat kecil. Mufassir masa itu memberikan pengertian terhadap benda terkecil adalah biji sawi, karena yang diketahui tentang benda terkecil itu adalah biji sawi, berbeda dengan pengetahuan masa sekarang benda terkecil masa sekarang ditemukan adalah atom - di mana mungkin juga bisa berubah lagi di masa mendatang sesuai perkembangan ilmu pengetahuan.Namun demikian, kendati pengertian zarrah senantiasa berubah sesuai perkembangan pengetahuan manusia namun maknanya tetap sama: benda terkecil. Begitulah terus-menerus sehingga Islam disebut agama sepanjang zaman dan kekal. Perlu kiranya dipertimbangkan tentang perkembangan arti dari suatu kata. Sebab ketika mendengar atau mengucapkan suatu kata yang tergambar dalam benak kita adalah bentuk material atau yang berhubungan dengan materinya. Namun, di lain segi, bentuk materi tadi dapat mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan ilmu pengetahuan. Sebagai contoh, kata "lampu". Bagi masyarakat tertentu lampu berarti suatu alat penerang yang terdiri dari wadah yang berisi minyak dan sumbu yang dinyalakan dengan api. Namun apa yang tergambar dalam benak kita dewasa ini tentang gambaran material tersebut telah berubah. Yang tergambar dalam benak kita kini adalah bohlam (bola lampu listrik). Inilah yang dikatakan bahwa Alqu'an berbicara kepada siapa saja dari zaman ke zaman dan.bersifat universal. Apa jadinya kalau kita harus mengikuti tafsiran orang-orang masa lalu yang pengetahuannya sampai di situ sehingga pikiran dan pengetahuan tentang makna sesuatu tidak berkembang seperti apa yang telah saya uraikan di atas. Bisa jadi Alqur'an menjadi kitab usang dan mati, astaghfirullah. Adapun jika pandangan saya terhadap sesuatu itu berubah, hal itu tidak mengubah kata-kata firman (lafadz Alqur'an). Yang berubah itu makna setiap orang tentang anggapan kata yang dimaksud secara dimensional. Baiklah, kini saya akan mengantar Anda untuk memahami Alqur'an agar Anda tidak salah faham terhadap pandangan saya mengenai memaknai ayat-ayat. Kita harus bisa membedakan antara tafsir dan ta'wil. Menurut Shahibut Taujih, Thahir Al Jazairi: tafsir, pada hakikatnya ialah mensyarahkan lafadz yang sukar difahamkan oleh pendengar dengan uraian yang menjelaskan maksud. Yang demikian itu adakalanya dengan menyebut muraddif (persamaan)-nya, atau yang mendekatinya, atau yang mempunyai petunjuk kepadanya melalui sesuatu jalan dalalah (petunjuk). Menurut Al Jurjany, tafsir pada asalnya ialah membuka dan melahirkan. Pada istilah syara' ialah mejelaskan makna ayat, urusannya, kisahnya dan sebab yang karenanya diturunkan ayat. Dengan lafadz yang menunjuk kepadanya secara langsung tafsir menghendaki keaslian maksud sesuai dengan sebab-sebab nuzulnya. Sedangkan ta'wil ialah mengembalikan sesuatu kepada ghayah-nya, yakni menerangkan apa yang dimaksud dari padanya. Menurut As Said Al Jurjany, ta'wil ialah memalingkan lafadz dari makna yang dhahir kepada makna yang muhtamil (yang dikandung), apabila makna yang muhtamil itu tidak berlawanan dengan Alqur'an dan As Sunnah. Sementara itu Ar Raghib Al Asfahany menganggap bahwa tafsir lebih umum daripada ta'wil. Tafsir lebih dipakai mengenai kata-kata tunggal, sedang ta'wil lebih banyak dipakai dalam kaitan makna dan susunan kalimat. Tafsir menerangkan makna lafadz yang tidak menerima selain dari satu arti. Ta'wil menetapkan makna yang dikehendaki oleh sesuatu lafadz yang dapat menerima banyak makna, lantaran ada dalil-dalil yang menghendaki. Dalam penjelasannya Al Maturidy menyatakan bahwa tafsir ialah menetapkan apa yang dikehendaki oleh ayat (lafadz) dan dengan sungguh-sungguh menetapkan: demikianlah yang dikehendaki Allah. Maka jika ada dalil yang membenarkan penetapan itu, dipandanglah sebagai tafsir yang shahih, sebaliknya kalau tidak dipandanglah sebagai tafsir yang berdasar fikiran yang tidak dibenarkan. Sementara ta'wil ialah mentarjihkan salah satu makna yang mungkin diterima oleh ayat (lafadz), yakni salah satu muhtamilat, dengan tidak meyakini bahwa demikianlah yang sungguh-sungguh dikehendaki Allah (mengakui makna sifat relatif - karena pengetahuan manusia berubah-rubah dan berbeda-beda setiap orang dan zaman). Sebenarnya saya tidak menafsirkan Alqur'an didalam mendukung pendapat saya mengenai makna spiritual. Akan tetapi memahami secara ilmu atau mendekatkan analogi ilmu sebagai perbandingan sesuatu yang terjadi. Kerohanian diannggap Mistik dan klenik ?? Saya akan menanggapi pernyataan Anda terhadap peristiwa yang dialami oleh rekan yang telah mengajukan pertanyaan terhadap saya mengenai shalat khusyu'. Anda menghendaki jalan syariat dan akidah yang benar, namun tidak ingin melihat fenomena kejiwaan orang yang khusyu', yaitu merasa bergetar hatinya lalu menangis, setelah itu perubahan yang di alaminya adalah kelembutan jiwanya, kehalusan rasanya, tidak ada kesombongan dalam hatinya, serta hatinya tak henti-hentinya menyebut nama Allah - bukan karena fikirannya akan tetapi mengalir melalui jiwanya. Anda mengatakan shalat khusyu' harus ada ilmunya? Maaf, Anda keliru besar. Khusyu' itu sendiri bukanlah sebuah ilmu tetapi keadaan atau pengalaman, seperti iman dan taqwa. Karena ketakwaan dan keimanan serta kekhyu'an merupakan karunia dan bimbingan dari Allah, maka shalat khusyu' tidak termasuk dalam sebuah PERINTAH dan LARANGAN. Untuk memahami ini Anda harus mengerti uslub dalam Alqu'an agar tidak memandang sempit arti Islam. Saya akan sebutkan contoh, misalnya begini, Anda mampu mengurai sebuah reaksi kimia sehingga menjadi sebuah gula. Tetapi Anda tidak akan mampu membuat rasa manis yang dikandung gula tersebut. Bahkan kadang Anda sendiri belum tentu merasakan rasa manis pada gula sehingga Anda tidak merasakan sensasi enak pada lidah dan pikiran - misalnya ketika lidah kena sariawan atau karena penyakit lainnya. Baiklah agar Anda tidak bingung, saya akan sebutkan beberapa uslub Alqu'an dalam menyuruh (al amr) dan melarang (an nahy). Alqu'an tidak hanya memakai satu macam uslub dalam menyuruh, melarang dan memberikan hak hamba memilih, dan menjelaskan keadaan (hal/kondisi). Seperti pada kalimat perintah (amar), menyuruh dengan terang memakai kata suruhan seperti firman Allah: "Bahwasanya Allah menyuruh kita berlaku adil dan berbuat ihsan dan memberikan belanja kepada kerabat." (QS. An Nahl: 90). Juga pada ushlub larangan, memakai mudhari' yang didahului oleh larangan, atau fi'il amar yang menunjukkan kepada larangan, seperti: "Tinggalkanlah olehmu dosa yang nyata dan dosa yang tersembunyi." (QS Al An'am:120) . Pada kedua uslub di atas Anda sering mendengarkan dengan jelas dan mengerti maksudnya sehingga Anda memaksakan diri untuk meninggalkan atau mengerjakan apa yang tercantum dalam ayat-ayat tersebut. Akan tetapi bagaimana sikap kita kepada ushlub yang menjelaskan keadaan atau pengalaman/kondisi seseorang misalnya pada firman Allah sebagai berikut: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhannya mereka bertawakkal." (QS. Al Anfaal: 2 ). Juga pada ayat-ayat di bawah ini:
Pada
uslub ayat di atas tidak ada kalimat perintah
maupun larangan, akan tetapi merupakan keterangan
dan pengalaman seseorang ketika mendapatkan
karunia dari Allah. Karena itu merupakan rahmat
Allah maka tidak akan masuk kepada hati orang
yang kasar dan sombong serta merasa paling
pintar, seperti diungkapkan pada surat Maryam
58-59, dikatakan bahwa mereka tidak akan mendapatkan
karunia atau nikmat iman seperti menangis
serta bersungkur tatkala disebut nama Allah,
disebabkan di hatinya ada kesombongan dan
memperturutkan hawa nafsu. Keadaan Pengalaman rekan-rekan itu telah dibenarkan oleh Alqu'an, bukan oleh Abu Sangkan. Karena hal (kondisi hati) mereka benar-benar merasakan ketenangan yangsangat luar biasa..bahkan sering menangis ketika shalat, merasakan keheninganhati disetiap saat seraya berucap Allah Allah Allah, kadang muncul subhanallah subhanallah dan laailaha illallah laailaha illallah, terus tanpa berhenti dan mereka merasakan nikmat dan damai yang amat sangat. Inilah yang dimaksudkan oleh Rasulullah SAW sebagai lazzatul iman. Pada surat Az Zumar 23 dikatakan orang yang takut kepada Allah serta berdzikir kepada Allah fisiknya akan mengalami sensasi bergetar kemudian mengalami proses ketenangan secara fisik dan hatinya, dan ditegaskan pada akhir ayat,. " itulah petunjuk Allah ", bukan mistik seperti apa yang Anda tuduhkan. Saya akan perkuat mengapa mereka mendapatkan tuntunan dan sensasi rasa yang berpengaruh kepada mental mereka (muncul kasih sayang, mudah menangis ketika disebut nama Allah, shalat semakin nikmat dan hati menjadi sangat tenang). Yakni, karena hati mereka telah mendapatkan petunjuk dari Rabbnya. Firman
Allah: "Dan barang siapa yang beriman
kepada Allah, tentu Dia akan menunjuki 'hatinya'
dan Tuhan Maha mengetahui segala-galanya."
( QS At Kiranya cukup Allah saja yang menilai getaran cinta mereka dan diakui oleh-Nya, kita hanya menelaah dengan ayat-ayat-Nya sebagai katalisator diterima atau tidaknya ibadah kita. Ayat-ayat ini sebenarnya merupakan ukuran atau cermin buat kita, bukan diperdebatkan, sudahkah bergetar hati kita tatkala disebut nama Allah, sudahkah kita menangis ketika shalat, sudahkah kita mendapatkan ketenangan jiwa ketika berdzikir kepada Allah. Padahal semua yang tersebut di atas merupakan ciri-ciri orang beriman. bahkan secara tegas Alqu'an mengatakan, bagi yang tidak mendapatkan karunia itu termasuk orang yang merugi bahkan tersesat. Di dalam surat Al Anfaal ayat 2 didahului kalimat innama, yang menunjukkan bahwa orang yang tidak bergetar hatinya ketika disebut nama Allah tidak dikatakan beriman. Sebab, iman itu muncul dari hati, bukan dari pikiran sebagaimana dilukiskan dalam sanggahan Allah terhadap orang Arab Badwi yang mengaku beriman ternyata menurut Allah mereka belum beriman karena iman belum masuk kedalam hatinya. "Orang-orang Badwi itu berkata, 'Kami telah beriman.' Katakanlah (kepada mereka), 'Kamu belum beriman, tetapi katakanlah 'kami telah tunduk' karena iman itu belum masuk kedalm hatimu " (QS Al Hujuraat: 14). Dalam ayat ini dikatakan walakin quuluu aslamna, akan tetapi katakanlah "kami baru berislam" (aslamna), walamma yadkhulil iman fi qulubikum, sebelum iman itu masuk kedalam hatimu . Demikian pandangan saya mengenai Alqur'an yang suci dan abadi, merupakan sebuah rujukan yang penuh inspirasi untuk memacu kreatifitas berfikir (afala tatafakkarun), kreatifas meneliti (afala tubshirun), dan kreatifitas akal (afala ta'qilun). Semoga Allah memaafkan kita semua dan membimbing hati kita untuk memahami ayat-ayatnya baik yang tertulis ( kauliyah) maupun ayat yang tak tertulis ( kauniyah/ ciptaan-Nya) amin Wassalam Abu Sangkan |
||
|
Copyright
© Yayasan Bukit Thursina 2002
|
|||